Home > Uncategorized > Bangsa yang Telah Kehilangan Jati Diri

Bangsa yang Telah Kehilangan Jati Diri

BANGSA YANG TELAH KEHILANGAN JATI DIRI

Oleh: Warsiman1

 

Ketika masih kecil, orang tua sering menasihati saya. “Nak, jangan pergi ke Jakarta (kota-kota besar)”, orang Jakarta itu suka makan orang. Saya berpikir, masak iya! Benarkah manusia suka makan daging sesama. Ketika dewasa, saya mulai berpikir bahwa ucapan orang tua saya pada sekian tahun yang lalu itu bukan merupakan kenyataan, melainkan sebagai pertanda bahwa kelak antarsesama akan tega memperdaya satu sama lain, tidak lagi saling peduli. Siapa yang berkesempatan untuk mencari keuntungan, maka akan ia lakukan dengan tanpa belas kasihan.

 

Suatu hari saya kedatangan tamu keluarga dari jauh. Ia tertipu oleh sopir taksi terminal. Dengan dalih sudah sore dan tidak akan ada kendaraan lagi menuju tempat tujuan, ia menuruti saja permintan sopir taksi untuk membayar ongkos 300 ribu rupiah. Padahal, jarak tempuh dari terminal menuju tempat tujuan hanya kurang dari sepuluh menit. Tampaknya memang ini kesempatan mereka untuk melakukan upaya pembohongan dan pemerasan demi keuntungan pribadi. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Barangkali demikian! Kasus semacam itu juga sering kita dengar dan menimpa saudara-saudara kita para TKI yang baru pulang dari negeri orang. Memang, zaman sudah edan!

 

Saat ini semua sisi kehidupan pun penuh dengan kepalsuan. Ingin makan bakso saja, kini bakso sudah di campur dengan borak. Ingin makan daging ayam, kini ayam yang berumur 40 hari, dan mestinya baru disapih oleh induknya sudah disembelih menjadi santapan. Ingin makan sayur, kini sayur sejak di ladang sudah disemprot dengan pestisida yang bebahaya bagi kesehatan. Ingin makan ikan asin, ikan asin kini juga sudah banyak yang diberi zat pengawet. Ingin makan onde-onde, kini onde-onde yang kita makan itu juga hasil gorengan minyak yang dicampur dengan plastik. Ingin makan buah semangka, kini buah semangka juga banyak yang sudah disuntik dengan bahan pemanis. Masih adakah kiranya makanan yang aman untuk kita konsumsi? Jawabannya adalah “tidak ada makanan yang aman untuk kita makan”. Semua itu dilakukan tak lain hanya untuk keuntungan pribadi, dan tanpa mempedulikan orang lain. Inilah, sekali lagi, yang disebut orang makan orang! Memang, zaman sudah edan!

 

Sisi kepalsuan lain masih banyak. Orang bergelar haji, tetapi hanya kopiahnya saja yang putih, bukan hatinya, sehingga sebutan haji mabur yang sering diplesetkan orang memang demikian kenyataannya. Bukan haji mabrur, yakni haji yang mendapat ridha Allah Swt.

 

Dahulu yang berhak mengenakan kopiah putih hanya orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji, dan itu menandakan bahwa mereka telah mencapai derajat lebih tinggi, lalu disimbulkan dengan kopiah putih berarti bersih. Memang, pada zaman itu orang menunaikan ibadah haji dengan mempertaruhkan segenap jiwa raga, dan harta benda. Berbulan-bulan mereka mengarungi samudera untuk mencapai tanah suci. Berbulan-bulan pula di dalam kapal mereka bermunajat keharibaan Allah Swt untuk mendapatkan keselamatan, baik keselamatan dirinya maupun sanak keluarga yang ditinggalkan. Namun, pada saat ini semua orang bisa membeli dan mengenakan kopiah putih, sehingga susah untuk dapat kita bedakan. Bahkan, orang-orang yang sepulang dari tanah suci pun sekarang ini tidak ada bedanya dengan yang belum, tentu dalam berprilaku sehari-hari. Sepulang dari tanah suci mereka akan kembali menjalani kehidupan lamanya. Jika mereka dahulu koruptor maka akan kembali menjadi koruptor, dan jika mereka dahulu penipu maka akan kembali menjadi penipu.  Memang, zaman sudah edan!

 

Demikian pula banyak orang bergelar kyai, tetapi gelar itu banyak digunakan untuk mengelabuhi pengikutnya, tentu untuk kepentingan pribadi. Saat ini banyak kyai yang ikut-ikut memanfaatkan momentum untuk mendapatan keuntungan pribadi. Sebagai misal, dengan dalih para santri dan pengikutnya akan dikerahkan untuk mendukung calon kepala daerah tertentu, atau calon anggota DPR tertentu, Sang kyai memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan imbalan. Baik berupa uang sosialisasi, hadiah-hadiah, maupun fasilitas lain.

 

Tampaknya sulit pada zaman sekarang menemukan seorang kyai sejati. Dahulu, ketika saya masih kecil, sering mendengar seorang kyai yang selamat dari percobaan pembunuhan. Kyai semacam ini mempertaruhkan hidupnya untuk kepentingan umat, membela rakyat yang tertindas dari penguasa dzalim. Kini hampir tidak ada lagi seorang kyai yang sejati itu, tetapi yang ada hanya para kyai karbitan, yang besar dan dibesarkan oleh media massa.

 

Pada zaman edan ini, manusia tidak lagi mau berpikir yang rasional, pantas, dan sesuai dengan kenyataan. Tampaknya kita telah kembali pada zaman Jahiliyah. Hukum positif sudah ditinggalkan dan hukum rimba kita dewa-dewakan. Siapa yang besar itulah yang menang. Ini dapat kita lihat dalam pemilihan pemimpin. Tampaknya kini tidak diperlukan orang yang mempunyai konsep, pintar, dan peduli rakyat. Yang diperlukan hanyalah meraka yang memiliki modal besar, dan banyak pengikut.

 

Rakyat tidak peduli lagi. Apakah kelak mereka akan menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Bodoh amat! Tampaknya cara berpikir rakyat kita sangat pragmatis. Semua ini disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan yang kurang. Siapa yang memberi uang, maka dia yang akan dipilih, dan tidak berpikir sebaliknya. Partai politik yang seharusnya mendidik dan memberi pencerahan kepada rakyat agar rakyat melek (mengerti) politik, tidak diperankan dengan baik. Justru mereka menjadikan rakyat hanya sebagai objek untuk mengakat dirinya ke singgahsana, setelah itu rakyat tetap tercampakkan. Sungguh, zaman memang sudah edan!

 

Simbul hukum rimba pun di mana-mana dapat kita saksikan. Kita lihat betapa banyak antribut tertentu yang bermakna pesan kehebatan dan kekuasaan tertempel pada benda-benda milik pribadi. Seperti: pada sepada motor, mobil, dan hak milik pribadi lainya. Sebagai misal, antribut tertulis sebagai keluarga atau anggota TNI, DPR, kepolisian, dan lembaga-lembaga tertentu yang notabene memiliki kekuasaan. Bahkan, antribut yang tertulis “keluarga besar kepersidenan” pun muncul. Anda mengetahui bahwa simbul itu memberi pesan kepada kita “He…jangan macam-macam, kalau tidak ingin berurusan dengan saya”. Dengan antribut itu, mereka semakin di atas angin, dan tidak jarang mereka pun berperilaku ugal-ugalan. Semua itu digunakan untuk menakut-takuti rakyat yang tertindas, buruk, dan terpuruk itu. Sungguh, zaman telah edan!

 

Orang bijak mengatakan, zaman edan sopo sing ora melu edan mula ora kedoman, nanging sak bejo-bejane wong yaiku wong sing tansah  eling lan waspodo (zaman edan siapa yang tidak ikut edan maka tidak kebagian, dan sebaik-baik orang adalah orang yang selalu ingat dan waspada). Oleh karena itu, kita jangan mudah heran kepada orang lain, sebab semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan orang lain bisa jadi kekurangan kita, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana Tuhan menciptakan oposisi biner kepada kehidupan. Terdapatnya siang tentu ada saatnya malam. Terdapatnya penderitaan tentu ada saatnya kebahagiaan, dan terdapatnya kejayaan tentu ada saatnya masa keterpurukkan. Roda selalu berputar!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


1 Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*