Home > Uncategorized > Analisis Wacana Monolog: Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan

Analisis Wacana Monolog: Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan

ANALISIS WACANA MONOLOG

(Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan)

Oleh

Dr. Warsiman, M.Pd.1

 

A.    Pendahuluan

Kita sering mendengar kata-kata wacana. Akhir-akhir ini banyak para politikus mengucapkan kata-kata itu dalam kaitannya dengan kebijaksanaan publik. Sebagai misal, “Bentuk negara kesatuan adalah final dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau ada usulan agar Indonesia menganut sistem federal itu hanya sekedar wacana”.

Kata wacana yang dalam istilah asing disebut discourse adalah klaster kalimat yang memiliki satu kesatuan informasi yang komunikatif (Djajasudarmo, 1994:1). Menurut Kridalaksana (1993:231) wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Sementara itu, menurut Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73) wacana diartikan sebagai suatu konstruksi yang terdiri atas kalimat yang satu diikuti oleh kalimat yang lain, yang merupakan suatu keutuhan konstruksi dan makna. Wacana dapat berbentuk karangan, paragraf, kalimat, frase, atau kata yang menyampaikan amanat lengkap (Depdikbud, 1985:39).

Bentuk wacana sebenarnya dapat berupa wacana lisan maupun wacana tertulis. Wacana tertulis oleh sebagian besar orang disebut teks, sedangkan wacana lisan jika seseorang ingin menganalisis harus ditanskrip terlebih dahulu ke dalam tulisan. Oleh karena itu, orang juga akan menyebutnya teks. Dengan demikian, wacana baik lisan maupun tertulis disebutnya dengan teks.

Istilah wacana sendiri pertama kali dikenalkan oleh Firth (1935) seorang ahli bahasa. Ia menganjurkan studi wacana melalui gagasannya bahwa konteks situasi perlu diteliti oleh para linguis, karena studi bahasa dan kerja bahasa sesungguhnya berada pada konteks. Lebih lanjut Firth (1935) mengatakan bahwa studi bahasa tidak dapat dilakukan bila hanya bergantung pada penataan-penataan linier, tetapi studi bahasa harus meliputi gramatikal dan makna (Djajasudarmo, 1994:2), sedangkan di Indonesia istilah wacana ini baru muncul sekitar tahun 1970-an.

Setiap ahli bahasa akan berpendapat lain dalam hal wacana, tetapi secara patron pendapat itu akan mengerucut dalam satu pengertian yang sama. Yang terpenting pengertian wacana selalu mengacu pada karangan, yakni karangan yang utuh baik dalam bentuk paragraf, kalimat, klausa, frasa.  Bahkan, kata yang bersifat gramatikal tertinggi dan beralur kohesi serta koherensi.

Menurut Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73), sebuah wacana harus memenuhi syarat kewacanaan. Adapun syarat kewacanaan suatu teks wacana setidaknya ada tujuh syarat. Ketujuh syarat itu ialah: 1) kohesi, artinya bagaimana komponen yang satu berhubungan dengan komponen yang lain; 2) koherensi, maksudnya bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep berhubungan menjadi relevan dan saling mengikat; 3) intesionalitas, yaitu sikap penghasil wacana agar perangkat kejadian-kejadian membentuk sarana teks bersifat kohesif maupun koheren dalam melaksanakan keinginan penghasil, karena ada kalanya suatu wacana yang mengandung intensionalitas tidak memperhatikan kekohesifan; 4) akseptabilitas, artinya suatu wacana menunjukkan seberapa besar keberterimaanya bagi penerima wacana; 5) informatifitas, yaitu seberapa besar suatu wacana berkadar informasi bagi penerima wacana; 6) situasionalitas, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan suatu wacana relevan dengan situasi yang sedang berlangsung; dan 7) keinterwacanaan, artinya segala hal yang berurusan dengan faktor-faktor yang menyebabkan penggunaan wacana yang satu bergantung pada pengetahuan tentang suatu wacana lain yang ditemui sebelumnya (cf. Pranowo, 1996:75).

Makalah ini akan mengupas prihal analisis wacana terutama analisis wacana monolog. Untuk memahami lebih dalam tentang analisis wacana monolog berikut ini penyajiannya.

B.    Analisis Wacana Monolog

1.     Pengertian Analisis Wacana

Analisis wacana atau dalam literatur asing disebut discourse analysis adalah analisis bahasa dalam penggunaan (Kaseng, 1989:159). Menurut Kaseng, penggunaan bahasa sebenarnya tidak terpisahkan dari analisis wacana (1989:159). Masudnya, berbahasa  berarti juga melakukan analisis wacana, baik disadari maupun tidak.

Sementara itu, Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73-74) berpendapat bahwa pada dasarnya analisis wacana adalah sebuah keinginan untuk melakukan analisis/interpretasi pesan yang diinginkan oleh pembicara/penulis dengan cara merekonstruksi teks sebagai produk ujaran/tulisan kepada proses ujaran/tulisan sehingga diketahui segala konteks yang mendukung wacana pada saat diujarkan/dituliskan. Hal senada juga disampaikan oleh Pranowo (1996:77) bahwa analisis wacana pada dasarnya adalah menganalisis penggunaan bahasa dalam konteks. Maksudnya, analisis wacana akan mendeskripsikan apa yang dimaksudkan oleh pembicara dan pendengar melalui wacana tersebut, dan oleh karena bahasa selalu terjadi dalam konteks, maka yang terlibat di dalamnya bisa berupa: konteks kultural yaitu, sekaitan dengan kesamaan arti dan pandangan tentang dunia, kontek sosial yaitu, yang berkenaan dengan identifikasi diri seseorang yang dikaitkan dengan orang lain yang menciptakan aturan dan cara mengerti situasi dan tingkah laku, dan konteks kognitif yaitu, tempat mengaitkan pernyataan dengan pengalaman lampau dan pengetahuan (cf. Kaseng, 1989:161-162).

Sebagaimana pandangan para ahli bahasa bahwa, setiap pernyataan akan selalu dalam kaitannya dengan konteks. Sekurang-kurangnya adalah konteks kognitif. Mereka meyakini bahwa kalimat-kalimat yang lepas dan yang muncul dalam analisis gramatika, dan yang didasarkan atas intuisi individual pun tidak terlepas dari konteks, yakni konteks kognitif. Bahkan, lebih jauh dari itu, bukan hanya intuisi kegramatikalan kalimat yang terkait dengan konteks, intuisi tentang arti semantik pun berada dalam sebuah konteks.

Analisis wacana sering pula berganti istilah dengan nama studi wacana, atau yang dimaknai lebih sempit lagi yakni, studi tentang kalimat-kalimat yang berkaitan dan dihasilkan oleh seorang pembicara. Analisis wacana adalah sebuah serpihan linguistik yang sedang tumbuh dan berkembang dalam prosesnya untuk menjadi cabang ilmu baru bagian dari linguistik. Analisis wacana mengambil posisi sebagai bagian linguistik yang meneliti satuan bahasa serta penggunaannya.

Sekalipun analisis wacana kedudukanya masih baru. Bahkan, merupakan ilmu yang baru berkembang mencari jati diri, tetapi keberadaanya sudah lama diapresiasi oleh pengguna bahasa mungkin tanpa mereka sadari.

2. Pengertian Wacana Monolog

Menurut Syamsuddin dkk. (1997/1998:163) yang dimaksud dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang tidak termasuk dalam lingkungan percakapan, tanya jawab, teks drama atau film, dan betuk-bentuk lain yang sejenis, termasuk juga wawancara. Syamsuddin memberikan contoh jenis-jenis wacana monolog lisan, diantaranya ialah pidato, khotbah, mengajar dan lain-lain, sedangkan jenis-jenis wacana monolog tulisan misalnya, pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita dan lain-lain dengan persyaratan dibentuk oleh sebuah kalimat/tuturan yang beruntun dan berkaitan berdasarkan atas kesatuan isi, tujuan dan situasinya.

Jadi, dapat disimpulkan di sini bahwa yang disebut dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang disampaikan searah bukan dialogis, beruntun dan berkaitan berdasarkan kesatuan isi, tujuan dan situasi.

Wacana monolog memiliki perbedaan yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan wacana dialog. Perbedaan tersebut diantaranya terletak pada aspek tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara.  Pada wacana monolog tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara tidak diperlukan, karena wacana monolog sifatnya searah bukan dua arah sebagaimana wacana dialog. Kalaupun terjadi, misalnya guru mengajar, hal itu hanya kebetulan saja, dan tidak sedikit pun menunjukkan sifat wacana dialog. Contoh yang konkrit dalam tradisi Jawa misalnya, seorang dalang pada suatu pagelaran wayang (kulit, krucil, thengul dll.).

3.     Analisis Wacana Monolog

Untuk melakukan kegiatan analisis wacana monolog ada  beberapa hal penting yang tidak dapat ditinggalkan. Hal yang dimaksud yakni, yang berhubungan dengan rangkaian dan kaitan tuturan, berhubungan dengan penunjukkan atau perujukan, serta berhubungan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana.

a. Rangkaian dan Kaitan

Rangkaian yang dimaksud dalam analisis wacana monolog di sini adalah segala bentuk hubungan antartuturan baik pada tataran antarkalimat dalam sebuah kalimat, maupun dalam leksikon pada satu kesatuan wacana monolog, sedangkan kaitan yang dimaksud di sini diartikan dengan segala bentuk hubungan yang terjadi antara satu alinea dengan alinea lain dalam satu kesatuan wacana monolog (Syamsuddin, 1997/1998:164).

Dalam wacana monolog, rangkaian yang dijadikan sebagai perangkai antartuturan banyak sekali jenisnya. Jenis-jenis yang dimaksud antara lain sebagai berikut: 1) penyambungan (conjunction); 2) alternatif; 3) perluasan/penjelasan; 4) jawaban; 5) sebab akibat; 6) perbandingan (comparison); 7) pertentangan (contrast); 8) pembatasan/pengertian (definition); 9) evaluasi (evaluation); 10) pembuktian/penguatan (evidence); 11) pemberian contoh (exaplification); 12) generalisasi; 13) penyimpulan (inference); 14) kesejajaran/paralel; 15) pertanyaan; 16) relasi tindakan; 17) pernyataan ulang; 18) hasil/akhirnya (result); 19) rangkuman/ringkasan (summary); 20) elipsis; 21) penggantian (substitution); 22) keterangan (exposition); dan 23) uraian (explanation) (Syamsuddin, 1992:81).

Kendati rangkaian banyak sekali jenisnya, tetapi untuk menerapkan ke dalam suatu tuturan baik antarkalimat maupun ke dalam tuturan antarleksikon diperlukan pengklasifikasian melalui sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap bentuk rangkaian tersebut, dan tidak semua rangkaian itu dapat diterapkan ke dalam suatu analisis wacana monolog, atau dengan kata lain belum tentu seluruhnya di jumpai dalam suatu kesatuan wacana.

b. Rujukan/Penunjukan

Dalam wacana monolog, rujukan atau penunjukan dapat dilakukan antara lain berdasarkan arah, sifat atau jenisnya. Berdasarkan arah, rujukan atau penunjukkan dibagi menjadi: 1) penunjukan ke dalam wacana itu sendiri yang disebut endophoric reference;  dan 2) penunjukkan ke luar dari wacana itu yang disebut dengan exophoric reference. Penunjukkan ke dalam wacana itu sendiri menurut ketetapan masih di bagi lagi yaitu, penunjukkan yang kembali kepada yang sudah disebut sebelumnya (penunjukkan ke atas) atau yang disebut anaphoric reference, dan penunjukkan kepada yang berikutnya (penunjukkan ke bawah) atau disebut dengan cataphoric reference (Syamsuddin,  1997/1998:171). Demikian pula penunjukkan yang dilakukan berdasarkan sifat atau jenisnya dapat dibagi menjadi: 1) penunjukkan proposal. Penunjukkan ini biasanya menggunakan nama orang atau benda; 2) penunjukkan demonstratif. Penunjukkan ini biasanya untuk menentukan tempat atau sesuatu dengan mempergunakan kata penunjuk sesungguhnya; dan 3) penunjukan perbandingan. Penunjukkan ini bersifat tak langsung, dan biasanya menggambarkan kesamaan, kemiripan, perbedaan, pertentangan dan lain-lain sifat dari sesuatu (Syamsuddin, 1997/1998:173).

Rujukan atau penunjukkan pada umumnya ditandai oleh kata-kata penunjuk sebenarnya seperti: ini, itu, di sini, di situ, maupun oleh kata-kata penunjuk yang tidak sebenarnya, seperti: tersebut, terkatakan, tersurat, berikut, dan lain-lain, dan kadang-kadang ditandai pula oleh kata-kata lain selain kata penunjuk  (Syamsuddin, 1992:86). Pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antarkalimat dalam suatu wacana bisa ditandai oleh kata-kata penunjuk, kata keterangan/pengulangan kata ganti, ungkapan penghubung antarkalimat, dan persangkaan (Depdikbud, 1985:40-41). Misal:

1) makanan kita harus bermacam-macam, seperti daging, sayuran, buah-buahan, dan susu. Makanan itu membuat kita sehat dan kuat.

2) uap air yang naik (ke atas) makin lama makin banyak dan membentuk awan. Uap air yang membentuk awan tadi makin tinggi makin dipengaruhi oleh suhu sekelilingnya.

Kata penunjuk itu yang mengacu kepada macam makanan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya dan pengulangan kata ganti kita dan kata makanan dapat memadukan hubungan antarkalimat pada contoh 1). Demikian pula halnya kata keterangan tadi pada contoh 2). kata tadi yang mengacu kepada pernyataan pada kalimat sebelumnya itu dapat memadukan hubungan antar kalimat pada contoh itu. Kemudian, yang menyatakan ungkapan penghubung seperti pada contoh berikut ini.

3) Bu Yanti adalah pedagang kaya. Meskipun demikian, dia hidup sederhana.

4) Warsiman selalu belajar keras. Oleh karena itu, nilai-nilai baik.

Frase meskipun demikian dan oleh karena itu dalam kalimat tersebut adalah ungkapan penghubung antarkalimat yang mengacu kepada kalimat pertama masing-masing contoh kalimat tersebut. Ungkapan itu dapat memadukan hubungan antarkalimat. Ungkapan seperti, akan tetapi, sehubungan dengan itu, dengan kata lain, akhirnya, namun, jadi dan sebagainya merupakan ungkapan penghubung antarkalimat.

Selanjutnya, yang menyatakan hubungan persangkaan. Hubungan persangkaan yaitu penanda hubungan antarkalimat dalam wacana yang tidak menggunakan penanda hubungan tertentu. Hubungan tersebut hanya dapat dilihat berdasarkan penalaran asosiatif. Perhatikan contoh berikut ini.

5) Eksperimen tentang susunan dan persendian tulang ayam dikerjakan dalam kelompok yang terdiri dari dua orang siswa. Perhatikan tulang-tulang ayam  yang ada di mejamu! Keras atau lunakkah tulang ayam? Tulang ayam terdiri dari zat apa? Tulang bagian tubuh apakah yang kamu selidiki? Dapatkah kamu menemukan hubungan antara tulang-tulang yang merupakan sendi dengan yang tidak merupaka sendi? Bincangkan dengan temanmu!

c. Pola Pikiran dan Pengembangan Wacana

Berkaitan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana serta pertaliannya dengan usaha mempermudah analisis, perlu kiranya dikemukakan di sini beberapa hal tentang wacana. Bahwa, wujud wacana dapat pula berupa sebuah alinea. Bahkan, wujud ini dianggap sebagai bentuk wacana yang paling kecil. Sekait dengan itu, dalam pembahasan ini akan ditalikan dengan variasi dan pengembangan alinea.

Menurut Syamsuddin (1992:88), sebuah alinea dibentuk oleh sekelompok kalimat, dan kelompok kalimat tersebut merupakan satu kesatuan maksud. Alinea atau yang disebut pula dengan paragraf selalu ditandai oleh adanya  garis baru berikutnya.  Garis baru dalam sebuah alinea tersebut ditandai oleh garis yang menjorok ke dalam dari garis margin, dan kurang lebih lima sampai tujuh ketukan atau kadang-kadang delapan ketukan.

Demikian pula Syamsuddin menjelaskan (1992:88) bahwa, dalam sebuah alinea terdapat sekurang-kurangnya tiga unsur di dalamnya. Ketiga unsur itu adalah:  1) adanya sebuah kalimat inti (topic sentences) yang merupakan pokok pikiran utama pada alinea itu; 2) adanya seri kalimat lain yang berkelompok dengan kalimat inti sebagai keterangan/penjelasan/uraian dari kalimat inti tersebut; dan 3) adanya keterangan-keterangan dari bagian-bagian utama pada kalimat-kalimat tersebut, terutama kalau alinea itu hanya terdiri atas satu kalimat panjang saja. Dalam hal ini, topik kalimat adalah inti sebuah kalimat.

Selanjutnya, dalam suatu alinea terdapat sifat-sifat tertentu yang memungkinkan sebuah alinea mudah dikenali. Sifat-sifat tersebut ialah:

1) sebagai uraian/penjelasan/keterangan terhadap salah satu aspek terkecil dari masalah yang dibahas dalam keterangan ini;

2) sebagai pengikat pokok-pokok pikiran terkecil dari aspek suatu karangan, yang disatukan dalam kelompok kalimat, sehingga unsur-unsur yang terkandung dalam aspek terkecil itu tidak berserakan;

3) sebuah alinea pada dasarnya juga merupakan topik terkecil dari masalah itu sekalipun pada alinea tidak pernah dituliskan judul/topik atau titel itu. Jadi, ada judul/topik tersembunyi pada sebuah alinea; dan

4) kalimat-kalimat yang terdapat dalam satu alinea diikat atau diarahkan oleh topik kecil alinea itu dan hubungannya rapat sekali dengan topik alinea (Syamsuddin dkk, 1997/1998:175).

Berdasarkan letak topik kalimat, sebuah wacana dapat digolongkan menjadi empat jenis. Keempat jenis tersebut ialah: 1)  topik kalimat terletak pada awal/permulaan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada awal/permulaan alinea biasanya  bersifat menguraikan sesuatu atau menjelaskan pendapat. Sebenarnya pengertian tentang permulaan alinea pada penjelasan tersebut bukan mengandung maksud hanya pada kalimat pertama saja topik kalimat itu dimunculkan, melainkan kalimat-kalimat pada bagian permualaan suatu alinea. Istilah lain menurut penulis adalah alinea atau paragraf induktif; 2) topik kalimat terletak pada pertengahan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada pertengahan alinea biasanya dijumpai pada alinea yang mengandung pengantar dan penutup, sedangkan bagian tengah merupakan pokok persoalan bagi alinea itu; 3) topik kalimat terletak pada akhir alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada akhir alinea biasanya merupakan suatu keputusan atau pembuktian terhadap masalah kecil pada alinea itu; dan 4) wacana yang alineanya terdiri atas satu kalimat. Wacana yang alineanya terdiri atas sebuah kalimat saja berarti seluruh pokok pikiran yang diperlukan pada alinea itu sudah dapat dirumuskan oleh kalimat tersebut secara jelas dan menyeluruh.

Dalam pendapat lain pembagian alinea atau paragraf ditentukan oleh letak kalimat tumpuan (kalimat topik) dalam paragraf bersangkutan, dan penggolongan atas alinea atau paragraf tersebut adalah sebagai berikut: 1) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal paragraf; 2) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada akhir paragraf; 3) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal dan akhir paragraf; dan 4) paragraf yang kalimat tumpuannya tersirat dalam keseluruhan paragraf (Depdikbud, 1985:42). Dua pendapat itu pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, kendati diuraikan dengan jalan pikiran yang berbeda.

4.  Pengembangan Alinea

Dalam pengembangan alinea hal terpenting yang perlu mendapat perhatian adalah unsur-unsur yang menjadi pengembang dari suatu alinea. Beberapa hal penting yang menjadi unsur pengembang dari suatu alinea antara lain:

1) fakta atau hal-hal yang sensitif, maksudnya, dalam upaya mengembangkan sebuah alinea setidaknya kita harus mencari objek untuk dijadikan sebagai bahan pengembangan. Dalam hal ini bisa sesuatu yang disetujui atau hal yang tidak disetujui oleh khalayak, dengan penyampaian ergumen-argumen kebaikan atau ketidakbaikan sesuatu berdasarkan fakta. Misal:  ”Tidur di bawah pohon malam hari tidak baik bagi kesehatan” , topik kalimat ini diyakini semua orang yang memahami kesehatan akan berpendapat yang sama, maka kalimat-kalimat lain yang diperlukan untuk memperluas dan melengkapi kalimat itu sebagai alinea adalah fakta-fakta tentang kejelekkan tidur di bawah pohon malam hari yang dikemukakan dalam bentuk kalimat-kalimat tambahan. Selain itu, dapat pula dipergunakan argumen lain yang spesifik yang dapat memperkuat topik kalimat tersebut.

2) contoh-contoh sebagai unsur, maksudnya, dalam mengembangkan sebuah alinea dapat juga mengambil contoh sesuatu hal untuk dikembangkan. Misal:  ”rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya”, kita dituntut untuk melengkapi dengan kalimat-kalimat lain yang merupakan contoh-contoh tentang kebenaran pernyataan itu. Untuk mengembangkan menjadi suatu alinea pada dasarnya bergantung dari tujuan kita terhadap main topic tersebut.

3) Insiden/kejadian sebagai unsur, maksudnya suatu insiden atau kejadian baik yang kita alami sendiri maupun yang dialami orang lain dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan sebuah alinea. Demikian pula dengan insiden/kejadian yang tidak terduga/ tidak direncanakan, baik yang kita alami atau dialami orang lain.

4) sekelumit cerita sebagai unsur, maksudnya sekelumit cerita dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan alinea. Biasanya pengarang mempunyai maksud untuk menarik perhatian pembaca atau untuk menyegarkan perasaan pembaca dari suatu situasi yang sebelum atau sesudah alinea itu. Oleh karena itu, alinea itu sengaja diciptakan oleh pengarang sekedar untuk selingan agar pembaca memiliki semangat dan hasrat kembali. Karangan yang beralinea model ini penggunaannya boleh pada karangan ilmiah, populer lebih-lebih pada sastra.

5) alasan/sebab sebagai unsur, maksudnya bahwa, alasan/sebab dapat pula dijadikan sebagai alat pengembang sebuah alinea. Bahkan, kenyataan di masyarakat tidak semua orang dapat menerima pendapat orang lain apabila tidak disertai dengan alasan-alasan yang rasional dan meyakinkan. dalam karangan ilmiah pengembangan alinea model ini sangat dibutuhkan.

5. Teknik Pengembangan Alinea

Mungkin semua orang akan berpendapat bahwa, kendati alinea itu hanya terdiri dari beberapa kalimat atau sebuah kalimat saja, tetapi cara penyusunan dan pengembangannya tidak semudah yang kita bayangkan, lebih-lebih jika kita tidak mengetahui langkah-langkah praktis atau teknis penyusunannya. Untuk mengatasi kesulitan tersebut Syamsuddin (1997/1998) menjelaskan langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan. langkah-langkah itu ialah:

a. Tentukan dahulu topik bagi alinea itu;

b. Catat semua hal yang menurut anda ada hubungannya dengan topik alinea itu. Tidak usah terlalu panjang, cukup pokok-pokok saja. Kemudian, anda seleksi mana yang tepat dan mana yang tidak;

c. Susun secara sistematis urutan unsur-unsur bagi alinea itu mulai dari topik disusul dengan penjelasan-penjelasannya;

d. Tentukan gaya penulisannya, apakah dimulai dengan kalimat topik atau dengan varisasi yang lain;

e. Akhirnya jadikan unsur yang berurutan itu paling sedikit satu kalimat untuk satu unsur.

Contoh kerangka alinea:

Topik    : Rapat akhir tahun RT 27 (dalam rangkaian wacana berjudul:  Evaluasi Kinerja Rukun Tetangga RT: 27 RW: 08 Perum Jalagriya Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo)

Detail   : 1. Ketua RT—program yang telah dicapai selama ini

2. Sekretaris RT—program yang masih tersisa

3. Warga—usulan tentang perlunya dibentuk koordinator gang

4. Warga—usulan tentang penetapan iuran dana pembangunan saluran air got

5. Bendahara—pengumpulan dana iuran pembangunan saluran air got

Contoh bentuk final kerangka tersebut

Rapat akhir tahun RT 27  malam ini adalah mendengarkan paparan ketua RT tentang program-program yang telah dan yang belum dicapai dalam tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan rukun tetangga 27. Rapat seperti ini selalu diselenggarakan untuk evaluasi kinerja ke depan agar lebih baik dalam pencapaian program berikutnya. Ketua RT memaparkan beberapa program yang telah dicapai dalam rencana jangka pendek tersebut. Program-program yang telah dicapai itu misalnya, pembangunan balai RT, pembangunan gapura masuk dan pemasangan listrik di sepanjang jalan masuk wilayah RT 27. Namun, masih ada sisa rencana jangka pendek yang belum dicapai. Sebagaimana yang dipaparkan oleh sekretaris RT bahwa masih ada satu program yang juga dianggap penting untuk direalisasikan. Program itu adalah pembangunan saluran air got yang tidak bisa mengalir jika musim hujan turun. Oleh karena itu, perlu ada kesepakan bersama tentang rencana tersebut. Untuk mengatasi persoalan itu apakah penanganannya dibebankan di pundak RT secara keseluruhan atau di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Warga mengusulkan agar penanganannya dibebankan di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Oleh karena itu,  maka perlu dibentuk seorang koordinator gang yang mengetuai/menggerakan masyarakat di tiap-tiap gang tersebut. Warga yang lain menyerukan ditetapkannya jumlah iuran dana yang akan digunakan untuk pembangunan saluran air got tersebut, jika perlu malam ini pula ditetapkan dalam forum ini. Bendahara menyarankan agar dibentuk pula bendahara gang sebagai tempat pengumpulan dana tersebut, dan tidak perlu ditampung dalam bendahara RT, agar tidak menyulitkan penggunaan uang tersebut sewaktu-waktu dibutuhkan. Akhirnya rapat malam itu berjalan dengan baik dan program-program yang mesih belum direalisasikan ditetapkan sebagai masalah penting yang perlu penanganan secepatnya.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Djajasudarmo, Fatimah T. 1994. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: PT Eresco.

Depdikbud. 1985. Panduan Penggunaan Kata, Kalimat, dan Wacana. Jakarta: Depdikbud.

Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan: Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Depdikbud.

Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatis. Bandung: Penerbit Angkasa.

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.

Syamsuddin A.R, dkk. 1997/1998. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Bandung: Depdikbud.

Syamsuddin A.R. 19992. Studi Wacana: Teori Analisis Pengajaran. Bandung: FPBS IKIP Bandung.

Wahab, Abd. 1991. Isu Linguistik: Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.


1 Lektor Kepala pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*