Bangsa yang Telah Kehilangan Jati Diri

BANGSA YANG TELAH KEHILANGAN JATI DIRI

Oleh: Warsiman1

 

Ketika masih kecil, orang tua sering menasihati saya. “Nak, jangan pergi ke Jakarta (kota-kota besar)”, orang Jakarta itu suka makan orang. Saya berpikir, masak iya! Benarkah manusia suka makan daging sesama. Ketika dewasa, saya mulai berpikir bahwa ucapan orang tua saya pada sekian tahun yang lalu itu bukan merupakan kenyataan, melainkan sebagai pertanda bahwa kelak antarsesama akan tega memperdaya satu sama lain, tidak lagi saling peduli. Siapa yang berkesempatan untuk mencari keuntungan, maka akan ia lakukan dengan tanpa belas kasihan.

 

Suatu hari saya kedatangan tamu keluarga dari jauh. Ia tertipu oleh sopir taksi terminal. Dengan dalih sudah sore dan tidak akan ada kendaraan lagi menuju tempat tujuan, ia menuruti saja permintan sopir taksi untuk membayar ongkos 300 ribu rupiah. Padahal, jarak tempuh dari terminal menuju tempat tujuan hanya kurang dari sepuluh menit. Tampaknya memang ini kesempatan mereka untuk melakukan upaya pembohongan dan pemerasan demi keuntungan pribadi. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Barangkali demikian! Kasus semacam itu juga sering kita dengar dan menimpa saudara-saudara kita para TKI yang baru pulang dari negeri orang. Memang, zaman sudah edan!

 

Saat ini semua sisi kehidupan pun penuh dengan kepalsuan. Ingin makan bakso saja, kini bakso sudah di campur dengan borak. Ingin makan daging ayam, kini ayam yang berumur 40 hari, dan mestinya baru disapih oleh induknya sudah disembelih menjadi santapan. Ingin makan sayur, kini sayur sejak di ladang sudah disemprot dengan pestisida yang bebahaya bagi kesehatan. Ingin makan ikan asin, ikan asin kini juga sudah banyak yang diberi zat pengawet. Ingin makan onde-onde, kini onde-onde yang kita makan itu juga hasil gorengan minyak yang dicampur dengan plastik. Ingin makan buah semangka, kini buah semangka juga banyak yang sudah disuntik dengan bahan pemanis. Masih adakah kiranya makanan yang aman untuk kita konsumsi? Jawabannya adalah “tidak ada makanan yang aman untuk kita makan”. Semua itu dilakukan tak lain hanya untuk keuntungan pribadi, dan tanpa mempedulikan orang lain. Inilah, sekali lagi, yang disebut orang makan orang! Memang, zaman sudah edan!

 

Sisi kepalsuan lain masih banyak. Orang bergelar haji, tetapi hanya kopiahnya saja yang putih, bukan hatinya, sehingga sebutan haji mabur yang sering diplesetkan orang memang demikian kenyataannya. Bukan haji mabrur, yakni haji yang mendapat ridha Allah Swt.

 

Dahulu yang berhak mengenakan kopiah putih hanya orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji, dan itu menandakan bahwa mereka telah mencapai derajat lebih tinggi, lalu disimbulkan dengan kopiah putih berarti bersih. Memang, pada zaman itu orang menunaikan ibadah haji dengan mempertaruhkan segenap jiwa raga, dan harta benda. Berbulan-bulan mereka mengarungi samudera untuk mencapai tanah suci. Berbulan-bulan pula di dalam kapal mereka bermunajat keharibaan Allah Swt untuk mendapatkan keselamatan, baik keselamatan dirinya maupun sanak keluarga yang ditinggalkan. Namun, pada saat ini semua orang bisa membeli dan mengenakan kopiah putih, sehingga susah untuk dapat kita bedakan. Bahkan, orang-orang yang sepulang dari tanah suci pun sekarang ini tidak ada bedanya dengan yang belum, tentu dalam berprilaku sehari-hari. Sepulang dari tanah suci mereka akan kembali menjalani kehidupan lamanya. Jika mereka dahulu koruptor maka akan kembali menjadi koruptor, dan jika mereka dahulu penipu maka akan kembali menjadi penipu.  Memang, zaman sudah edan!

 

Demikian pula banyak orang bergelar kyai, tetapi gelar itu banyak digunakan untuk mengelabuhi pengikutnya, tentu untuk kepentingan pribadi. Saat ini banyak kyai yang ikut-ikut memanfaatkan momentum untuk mendapatan keuntungan pribadi. Sebagai misal, dengan dalih para santri dan pengikutnya akan dikerahkan untuk mendukung calon kepala daerah tertentu, atau calon anggota DPR tertentu, Sang kyai memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan imbalan. Baik berupa uang sosialisasi, hadiah-hadiah, maupun fasilitas lain.

 

Tampaknya sulit pada zaman sekarang menemukan seorang kyai sejati. Dahulu, ketika saya masih kecil, sering mendengar seorang kyai yang selamat dari percobaan pembunuhan. Kyai semacam ini mempertaruhkan hidupnya untuk kepentingan umat, membela rakyat yang tertindas dari penguasa dzalim. Kini hampir tidak ada lagi seorang kyai yang sejati itu, tetapi yang ada hanya para kyai karbitan, yang besar dan dibesarkan oleh media massa.

 

Pada zaman edan ini, manusia tidak lagi mau berpikir yang rasional, pantas, dan sesuai dengan kenyataan. Tampaknya kita telah kembali pada zaman Jahiliyah. Hukum positif sudah ditinggalkan dan hukum rimba kita dewa-dewakan. Siapa yang besar itulah yang menang. Ini dapat kita lihat dalam pemilihan pemimpin. Tampaknya kini tidak diperlukan orang yang mempunyai konsep, pintar, dan peduli rakyat. Yang diperlukan hanyalah meraka yang memiliki modal besar, dan banyak pengikut.

 

Rakyat tidak peduli lagi. Apakah kelak mereka akan menjadi pemimpin yang baik atau sebaliknya. Bodoh amat! Tampaknya cara berpikir rakyat kita sangat pragmatis. Semua ini disebabkan oleh faktor ekonomi dan pendidikan yang kurang. Siapa yang memberi uang, maka dia yang akan dipilih, dan tidak berpikir sebaliknya. Partai politik yang seharusnya mendidik dan memberi pencerahan kepada rakyat agar rakyat melek (mengerti) politik, tidak diperankan dengan baik. Justru mereka menjadikan rakyat hanya sebagai objek untuk mengakat dirinya ke singgahsana, setelah itu rakyat tetap tercampakkan. Sungguh, zaman memang sudah edan!

 

Simbul hukum rimba pun di mana-mana dapat kita saksikan. Kita lihat betapa banyak antribut tertentu yang bermakna pesan kehebatan dan kekuasaan tertempel pada benda-benda milik pribadi. Seperti: pada sepada motor, mobil, dan hak milik pribadi lainya. Sebagai misal, antribut tertulis sebagai keluarga atau anggota TNI, DPR, kepolisian, dan lembaga-lembaga tertentu yang notabene memiliki kekuasaan. Bahkan, antribut yang tertulis “keluarga besar kepersidenan” pun muncul. Anda mengetahui bahwa simbul itu memberi pesan kepada kita “He…jangan macam-macam, kalau tidak ingin berurusan dengan saya”. Dengan antribut itu, mereka semakin di atas angin, dan tidak jarang mereka pun berperilaku ugal-ugalan. Semua itu digunakan untuk menakut-takuti rakyat yang tertindas, buruk, dan terpuruk itu. Sungguh, zaman telah edan!

 

Orang bijak mengatakan, zaman edan sopo sing ora melu edan mula ora kedoman, nanging sak bejo-bejane wong yaiku wong sing tansah  eling lan waspodo (zaman edan siapa yang tidak ikut edan maka tidak kebagian, dan sebaik-baik orang adalah orang yang selalu ingat dan waspada). Oleh karena itu, kita jangan mudah heran kepada orang lain, sebab semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan orang lain bisa jadi kekurangan kita, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana Tuhan menciptakan oposisi biner kepada kehidupan. Terdapatnya siang tentu ada saatnya malam. Terdapatnya penderitaan tentu ada saatnya kebahagiaan, dan terdapatnya kejayaan tentu ada saatnya masa keterpurukkan. Roda selalu berputar!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


1 Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:

Mengangkat Citra Guru Melalui Penguasaan Kompetensi

MENGANGKAT CITRA GURU MELALUI PENGUASAAN KOMPETENSI

(Analisis Arah Kebijakan Pengembangan Tenaga Kependidikan

di Lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah

dalam Menghadapi Era Persaingan Global)

Oleh:

Dr. Warsiman, M.Pd.1

 

 

A.     Pendahuluan

Keluarnya undang-undang nomor 14 tahun 2005 pada beberapa waktu yang lalu, menjadi hujan di tengah kemarau panjang. Dalam undang-undang itu dijanjikan bahwa guru akan mendapat pengakuan sebagai tenaga profesional dan memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji setelah mereka lulus menempuh program sertifikasi. Syukurlah, kini janji itu sudah mulai ditepati oleh pemerintah.

 

Kita memaklumi bahwa niat pemerintah melakukan program sertifikasi tak lain karena komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Merupakan suatu kenyataan bahwa LPTK di negara kita ini ribuan jumlahnya. Pemerintah tidak sanggup membiayai lembaga pendidikan yang ribuan jumlahnya itu dengan sendirinya. Oleh karena itu, pemerintah membuka diri terhadap keikutsertaan masyarakat untuk turut membangun negeri ini. Namun, dalam perjalanan waktu, pemerintah tidak mampu mengendalikan keberadaan lembaga-lembaga pendidikan swasta tersebut terutama dalam hal kualitas. Di mana-mana berdiri lembaga swasta dan sebagian besar di antaranya hanya mengejar profit (keuntungan), tanpa mengedepankan kualitas. Itulah sebabnya banyak di antara lulusan lembaga tersebut yang hanya menyandang gelar sebagai sarjana, tetapi tidak mencerminkan kompetensi diri.

 

Berdasarkan kenyataan itu, dan seiring dengan rencana pemerintah untuk mengakomodasi kepentingan kesejahteraan guru, maka jalan di antaranya yang mesti ditempuh adalah mengharuskan terselenggaranya program sertifikasi. Hal ini dilakukan agar kelak profesi keguruan benar-benar ditangani oleh orang-orang yang berkualitas dan berpotensi di bidangnya. Tanpa upaya itu, mustahil dunia pendidikan di Indonesia akan dapat terangkat.

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa biaya untuk belanja pegawai negeri sipil di tanah air ini menyedot dana APBN maupun APBD yang cukup besar, termasuk belanja untuk guru (pegawai), sedangkan hasil yang diharapkan pemerintah akibat dari kausalitas tersebut masih belum sebanding. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya untuk mencari jalan keluar agar harapan menjadikan dunia pendidikan di Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain dapat tercapai.

 

Sementara itu, pada sisi lain banyak kebijaksanaan pemerintah yang masih menyisakan pertanyaan. Komitmen untuk menjadikan dunia pendidiakan di Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain juga menjadikan kita sanksi, karena pada kenyataannya pemerintah masih saja merekrut calon tenaga guru yang dianggap masih belum selektif, misalnya perekrutan calon guru berdasarkan data base (atau apalah namanya) tanpa mempertimbangkan sisi kualitas.

 

Pengangkatan pegawai negeri yang bernuansa politik memang sudah pada saatnya harus dihentikan. Demikian pula, program pengangkatan pegawai negeri secara otomatis yang didasarkan atas data base juga perlu ditinjau kembali, terutama pengangkatan untuk tenaga guru. Kesan yang muncul terhadap kebijaksanaan tersebut adalah seperti ada udang di balik batu.

 

Kebijaksanaan pengangkatan pegawai negeri terutama guru, yang didasarkan atas data base boleh saja tetap dilakukan, tetapi harus melalui seleksi kualitas yang ketat pula, dan bukan didasarkan atas nomor urut data base, lebih-lebih didasarkan oleh urut usia.

 

 

B.     Hambatan-hambatan dalam Pengembangan SDM di Lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah

Abad ke-21 merupakan abad yang penuh dengan harapan sekaligus tantangan. Kemajuan global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang kehidupan, tidak hanya menjanjikan kemudahan, tetapi juga bisa sebaliknya yakni: kecenderungan kejahatan memiliki peluang terbaiknya (Anwar, 2004:93). Negera-negara maju telah berlomba-lomba untuk menciptakan teknologi canggih guna untuk memenuhi hajat hidup manusia yang semakin kompleks itu.

 

Pesatnya perkembangan teknologi di negara maju memaksa suatu negara yang sedang berkembang mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkan. Tak dapat dihindari perkembangan yang pesat dan cepat tersebut akan menuntut konsekuensi tinggi terutama masuknya pasar bebas, dan kini era pasar bebas telah diberlakukan. Masyarakat Indonesia masih tampak bengong dan bingung apa yang harus dilakukan. Para pemilik modal dari negara-negara asing telah berlomba-lomba menanamkan modalnya. Di Indonesia sektor pendidikan menjadi incaran para pemilik modal asing tersebut. Lihat saja beberapa kota besar, telah berdiri puluhan lembaga pendidikan asing yang siap menyingkirkan lembaga pendidikan lokal.

 

Menyikapi keadaan itu, pemerintah baik pusat maupun daerah, tidak ada jalan lain kecuali berpacu dengan waktu dan menata kembali rencana strategis untuk menjawab tantangan itu. Ujung tombak yang utama untuk mengantisipasi dampak tersebut adalah perlunya dibangun suatu pondasi pendidikan yang kuat. Pendidikan yang mantap akan menghasilkan sumber daya manusia yang handal, dan SDM yang handal akan menjadi tameng arus globalisasi yang dasyat itu masuk di negeri kita.

 

Perubahan sistem pendidikan di Indonesia akibat perkembangan zaman, tentu akan menuntut perubahan perilaku tenaga kependidikan. Sering sekali perubahan suatu sistem pendidikan di negeri ini tidak mampu diikuti oleh perilaku tenaga kependidikan. Masalah yang nyata adalah sulitnya tenaga kependidikan kita memperoleh akses untuk dapat mengembangkan dirinya. Contoh riil adalah sulitnya tenaga kependidikan mendapatkan izin untuk belajar dari instansi yang menaunginya. Dengan kata lain, kewenangan lembaga pendidikan tempat mereka mengabdi selalu di bawah bayang-bayang birokrasi yang menaungi, sehingga kemandirian lembaga menjadi terkebiri.

 

Sebagai tenaga kependidikan, meningkatkan kualitas diri dan membekali kemampuan akademik demi suatu pengabdian yang seutuhnya merupakan suatu keniscayaan. Namun, di sisi lain kondisi itu tidak memungkinkan untuk dilakukan. Padahal, perubahan zaman terus bergulir, dan keadaan juga terus berubah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Wibowo (2006:91), bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perubahan akan selalu terjadi karena dorongan eksternal dan adanya kebutuhan internal. Dorongan eksternal terjadi karena adanya perubahan zaman, dan kebutuhan internal terjadi karena tuntutan keadaan yang menginginkan sekarang harus lebih baik dari sebelumnya.

 

Tuntutan terhadap penyesuaian keadaan zaman menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar oleh tenaga kependidikan. Mau tidak mau tenaga kependidikan dituntut untuk dapat menyesuaikan keadaan sekarang dari keadaan sebelumnya. Lihat saja kemajuan teknologi yang demikian pesat, batas antarnegara hampir tidak ada. Informasi juga demikian cepat dapat kita akses melalui berbagai alat modern. Internet sudah memasuki dunia kita. Siswa-siwa sekolah sudah mulai menjamah teknologi yang canggih itu. Bagaimana dengan tenaga kependidikan, jika mereka tetap berjalan ditempat, atau dengan kata lain masih gagap teknologi, maka mereka akan ketinggalan dengan siswa-siswanya.

 

Tenaga kependidikan yang profesional adalah tenaga kependidikan yang selalu dapat mengikuti perkembangan zaman dan juga dapat mengembangkan diri secara terus menerus. Pengembangan diri harus disesuaikan dengan bidang profesinya agar gayut dengan tugas dan tanggung jawabnya. Tidak dapat dimungkiri bahwa redahnya mutu pendidikan di negara kita ini antara lain disebabkan oleh rendahnya mutu tenaga kependidikan. Walaupun faktor lain seperti peserta didik, kurikulum, sarana pembelajaran termasuk masyarakat sekitar juga turut mempengaruhi (Tirtarahardja, 2005:233).

 

Untuk mengatasi permasalahan mutu, salah satu di antaranya pemerintah harus membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi tenaga kependidikan untuk mengembangkan diri melalui studi lanjut baik pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi (misalnya KKG, MGMP, dan lain-lain) maupun peningkatan strata pendidikan. Pemerintah harus mengupayakan akses itu dengan benar sesuai dengan amanat undang-undang sistem pendidikan di negera ini. Selain itu, iklim akademik di suatu lembaga pendidikan perlu diciptakan agar tejadi eksplorasi keilmuan secara intensif. Hal-hal lain seperti: penyempurnaan kurikulum, pengembangan prasarana, peningkatan administrasi manajemen, kegiatan pengendalian mutu seperti: laporan penyelenggaraan pendidikan, supervisi dan monitoring, sistem ujian, akreditasi (Tirtarahardja, 2005:234), juga perlu mendapat perhatian yang seimbang serta dikelola (di-manage) dengan baik.

 

Kebijakan dengan memberikan akses kemudahan dalam pemberian izin belajar atau lebih-lebih tugas belajar kepada insan-insan pendidikan (guru-guru), perlu terus didorong, agar dapat dicapai harapan peningkatan intelektual yang semakin banyak dan merata. Sebagaimana amanat PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, terutama pasal 59 dalam rinciannya bahwa salah satu hal yang harus diambil oleh pemerintah daerah dalam menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan, adalah hendaknya memprioritaskan program peningkatan status guru sebagai profesi3.

 

Harapan tersebut tampaknya belum mudah untuk kita dapatkan. Pada kenyataan banyak guru yang masih mengeluh terhadap sulitnya mendapatkan kesempatan izin belajar (studi lanjut) lebih-lebih tugas belajar dari instansi birokrasi yang menaunginya. Untuk menyiasati keadaan itu, para guru banyak yang berupaya sendiri atas kesadarannya terhadap tanggung jawab yang diemban dengan diam-diam menempuh studi di luar kedinasan. Selain itu, banyak pula diantaranya yang membentuk kelompok-kelompok kerja profesi di lingkungan internal dan eksternal lembaga, demi kebutuhan mereka sendiri serta untuk menyesuaikan keadaan zaman yang semakin maju tersebut. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa peningkatan strata pendidikan misalnya, tentu juga akan menaikan strata sosial serta ekonomi. Kausalitas dari kenyataan itu seharusnya menjadi modal yang besar bagi pemerintah untuk terus mendorong mereka mencapai tarap tersebut, yang pada ujungnya juga akan berimbas pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

 

 

C. Arah Kebijakan dalam Pengembangan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah

 

Selama kurun waktu yang cukup lama dunia pendidikan kita berada dalam menara gading. Pola pendidikan tradisional sampai sekarang masih diadopsi oleh sebagian besar para praktisi pendidikan di lapangan. Padahal, pola pembelajaran yang bersifat koopratif dan eksploratif sudah lama muncul dan didengungkan oleh para pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini.

 

Permasalahannya tak lain karena SDM tenaga kependidikan kita masih rendah. Selain itu, faktor kesejahteraan juga belum memadai. Sebagai bukti bahwa banyak guru-guru yang selepas berdinas mereka pada mencari pendapatan tambahan. Bagaimana tidak, kebutuhan keluarga semakin menghimpit, sedangkan gaji tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekalipun sebagian diantaranya telah mendapatkan gaji sertifikasi. Itulah sebabnya bagaimana mungkin seorang guru dapat terfokus memikirkan proses belajar mengajar di sekolah, bila keadaan keluarga mereka sendiri masih serba kekurangan.

 

Berdasarkan kenyataan ini, maka banyak hal yang harus dipikirkan oleh para pemimpin negeri ini jika menginginkan dunia pendidikan di tanah air ini semakin baik. Hasil survei membuktikan bahwa negara yang memperhatikan sistem penggajian tenaga kependidikannya, terbukti negara tersebut cenderung mengalami peningkatan produktivitas. Apa hubungannya antara sistem penggajian dengan produktivitas kerja masyarakat, tentu sangat terkait. Sistem penggajian yang baik akan mendorong motivasi kerja, tenaga kependidikan yang memiliki motivasi kerja yang tinggi, cenderung akan menunjukkan kinerja yang baik, kinerja yang baik akan menghasilkan lulusan yang berkualitas, dan lulusan yang berkualitas akan mengangkat kesejahteraan masyarakat karena produktivitas kinerja yang semakin meningkat.

 

Di Indonesia konsistensi pembiayaan pendidikan masih rendah. Pemerintah masih setengah hati dalam melaksanakan kebijakan investasi pendidikan. Lain halnya di negara tetangga, di Jepang misalnya, pemerintah Jepang dengan sepenuh hati telah mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan, karena ia menyadari bahwa maju mundurnya negara ditentukan oleh hasil pendidikan.

 

Untuk dapat mencapai harapan peningkatan mutu pendidikan, tidak ada jalan lain kecuali pemerintah segera memulai dengan menata dan memprioritaskan tenaga kependidikan memperoleh akses pengembangan diri dengan sebaik-baiknya. Meskipun 20 persen APBN telah dialokasikan untuk pendidikan, tetapi masih banyak pemerintah daerah melalui APBD-nya yang belum mau merealisasikan kebijakan tersebut tentu dengan berbagai alasan.

 

1.      Pengembangan Diri Tenaga Kependidikan.

Di lingkungan pendidikan dasar dan menengah, pengembangan diri seorang tenaga kependidikan tidak saja berorientasi pada ranah kemampauan pengetahuan dalam proses belajar mengajar, tetapi lebih dari itu, pengembangan diri pada tataran keteladanan menjadi sesuatu yang lebih utama, mengingat siswa sekolah dasar dan menengah masih membutuhkan contoh konkrit pola pendidikan keteladanan dari para pendidiknya.

 

Ranah kemampuan pengetahuan tetap dibutuhkan untuk suksesnya transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi ranah keteladanan jauh lebih penting untuk membentuk perilaku anak ke depan menjadi manusia yang manusiawi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mastuhu bahwa pendidikan tak lain adalah satu yaitu, memanusiakan manusia (2003:136). Artinya, pendidikan hakekatnya adalah mengembangkan semua potensi daya manusia menuju kedewasaan, sehingga mereka kelak mampu hidup mandiri dan mampu pula mengembangkan tatakehidupan bersama yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan zaman. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai human dignity, yaitu menghargai harkat dan martabat, juga disebut humanizing human, yaitu menanusiakan manusia.

 

Dahulu yang dinamakan guru adalah tenaga kependidikan yang pantas untuk di-gugu atau dijadikan panutan dan ditiru. Demikian pula filsafat pendidikan Indonesia yang digagas oleh Ki Hajar Dewantoro yang terkenal dengan tiga asas pendidikan, yaitu (1) ing ngarso sung tulodo, (2) ing madya mangun karsa, dan (3) tut wuri handayani, begitu mulianya. Tiga prinsip tersebut melekat kuat di hati guru (tenaga kependidikan), yaitu: (1) di depan menjadi teladan, (2) di tengah-tengah membangun kemauan, dan (3) di belakang memberi dorongan.

 

Apakah ketiga prinsip tersebut telah melekat kuat pada diri tenaga kependidikan pada saat ini. Inilah yang barangkali perlu kita gali lagi nilai-nilai pendidikan pada saat itu dengan berkaca pada masa lalu. Tampaknya, sekarang ini banyak tenaga kependidikan yang telah melupakan nilai-nilai ketiga prinsip tersebut. Justru, karakter bangsa yang tercermin pada prinsip pertama perlu kita utamakan dalam pendidikan. Penyimpangan-penyimpangan perilaku peserta didik yang terjadi pada akhir-akhir ini antara lain adalah dampak dari krisis keteladanan tenaga kependidikan. Dalam proses pembelajaran, banyak pendidik yang lupa menanamkan nilai-nilai kepribadian bangsa tersebut, dan mereka pada umumnya lebih berorientasi pada tujuan mencerdaskan intelektual anak didik.

 

Satu hal yang perlu dicermati bagi tenaga kependidikan kita yakni, mengembalikan proses pendidikan ke tujuannya. Di dalam UUD 1945 diamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Selanjutnya, dinyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

 

Untuk mencapai tujuan tersebut, yakni tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjamin pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, salah satu upaya yang harus dilakukan oleh tenaga kependidikan adalah memegang tiga asas pendidikan terutama pada asas pertama yaitu di depan bisa dijadikan teladan. Kenyataan memang demikian, tenaga kependidikan selalu berada pada garda depan yang langsung berhadapan dengan peserta didik dan lingkungannya. Masyarakat akan mencontoh semua perilaku mereka, kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, keteladanan bagi tenaga kependidikan di lingkungan pendidikan dasar dan menengah harus senantiasa dijaga dan dipertahankan.

 

2. Pengembangan Organisasi Lembaga pendidikan

Menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan sebuah sistem dari aktivitas yang dikoordinasi secara sadar oleh dua orang atau lebih (Kreitner dan Kinichi, 2001;621, dalam Wibowo, 2006:335). Sementara itu, tujuan pengembangan organisasi tak lain adalah untuk membuat organisasi dan anggotanya efektif. Pengembangan organisasi harus dilakukan dengan terencana,  dan terus menerus untuk meningkatkan struktur, prosedur, dan aspek manusia dalam sistem, dan pengembangan organisasi adalah berlandas pada kelangsungan dan pertumbuhan organisasi dengan meningkatkan kualitas kehidupan kerja, dan kualitas hidup pekerja (Wibowo, 2006:336). Pengembangan organisasi lembaga pendidikan dengan demikian, maka tak lain adalah untuk kelangsungan dan pertumbuhan lembaga tersebut serta untuk meningkatkan kualitas siswa sebagai komponen utama dan guru dalam tataran keilmuan, untuk mencapai tujuan bersama.

 

Tampaknya perkembangan zaman menuntut pula pengembangan organisasi lembaga pendidikan. Kebutuhan masa sekarang jauh lebih kompleks daripada dahulu. Tuntutan zaman itulah yang memaksa organisasi lembaga pendidikan mengikuti jejaknya. Yang lebih penting lagi bagi organisasi lembaga pendidikan adalah ia mampu menjawab semua permasalahan yang muncul dan menghadapi semua tantangan yang ada.

 

Perannya sebagai agen perubahan, organisasi lembaga pendidikan harus mampu merespon perubahan dengan sifat terbuka. Sifat terbuka yang dimaksud adalah mau menerima atau mengadaptasi nilai-nilai baru, tetapi tetap kritis dan dengan cara selektif (Anwar, 2004:93). Menurut Profesor Moch Idochi Anwar (2004:93) bahwa nilai-nilai baru memang diperlukan untuk beradaptasi dengan lingkungan, yaitu lingkungan yang selalu berubah, serta nilai-nilai baru juga diperlukan untuk menjawab semua permasalahan yang dibawa oleh perubahan tersebut. Selain itu, nilai-nilai baru dapat pula dimanfaatkan untuk memodifikasi dan merevitalisasi nilai-nilai lama yang dinggap masih relevan dengan kebutuhan dan tantangan yang ada.

 

Sebagai sebuah organisasi, lembaga pendidikan harus mampu memenuhi keinginan akan lingkungannya. Selain itu, pengembangan organisasi lembaga pendidikan juga harus menyentuh secara menyeluruh hal-hal berkaitan dengan perencanaan, baik perencanaan yang terkait dengan pengembangan karir dan pengetahuan, maupun terkait dengan penguasaan kompetensi oleh komponen tenaga kependidikan di dalamnya. Misalnya, kualifikasi, dan kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) tenaga pendidiknya (Koeslita, 2007:3).

 

Kompetensi yang dimaksud dalam paparan tersebut jika dijabarkan adalah sebagai berikut. 1) kompetensi pedagogik: menguasai karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar, mampu mengembangkan kurikulum, menyelenggarakan pembelajaran, memanfaatkan telekomunikasi untuk kepentingan pembelajaran, memfasilitasi pengebangan potensi peserta didik, berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, menyelenggarakan evaluasi proses dan hasil belajar, memanfaatkan hasil evaluasi untuk pembelajaran, dan melaksanakan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pebelajaran. 2) kompetensi kepribadian: bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, jujur, berakhlak mulia, teladan bagi masyarakat, dewasa dan berwibawa, beretos kerja, bertanggung jawab, memiliki rasa bangga sebagai tenaga pendidik, dan menjunjung kode etik profesi. 3) kompetensi sosial: bersikap inklusif, objektif, tidak diskriminatif, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja. 4) kompetensi profesional: menguasai materi, struktur, konsep, pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, mampu mengembangkan materi pembelajaran, mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, dan menanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Itulah hal-hal penting yang harus ditangani dalam pengembangan organisasi lembaga pendidikan.

 

C.     Perbedaan dalam Pengembangan SDM di Lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah dengan di Lingkungan Pendidikan Tinggi

Pengembangan SDM di lingkungan pendidikan dasar dan menengah berbeda dengan pengembangan SDM di lingkungan pendidikan tinggi. Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam tulisan sebelumnya bahwa pengembangan SDM di lingkungan pendidikan dasar dan menengah lebih diorientasikan pada sisi keteladanan atau kepribadian selain pengembangan pada kemampuan kompetensi pedagogik. Kebijaksanaan itu mengacu pada keberadaan anak pada usia sekolah dasar atau sekolah menengah masih belum sepenuhnya dapat diajak berpikir secara abstrak. Bahkan, menurut Pidarta (1997:192) secara kognisi pada periode ini anak baru mulai dapat berpikir logis, sistematis, dan baru mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat konkrit serta lambat laun menuju pada kemampuan untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang bersifat abstrak. Masa ini juga disebut sebagai masa pencarian jati diri. Oleh karena itu, kecenderungan anak untuk meniru sangat tinggi. Pendidikan yang diarahkan pada pencarian bentuk akan menjadikan guru sebagai aktor utama atau model bagi anak.

Sementara itu, pengembangan SDM di lingkungan pendidikan tinggi berbeda, karena mahasiswa dianggap sebagai manusia yang telah matang dalam taraf berpikirnya. Daya nalar yang dimiliki untuk berpikir aktif dan responsif telah tumbuh dengan baik. Demikian pula daya analisis dan kemampuan berpikir abstrak juga telah mulai tumbuh sempurna. Dengan keadaan itu maka pengembangan tenaga kependidikan di tingkat perguruan tinggi sudah tidak sekedar keteladanan, melainkan lebih dari itu bahkan mungkin menciptakan keteladanan.

Di lingkungan perguruan tinggi pendidikan diarahkan kepada hal-hal yang bersifat keilmuan. Dosen berperan sepenuhnya sebagai fasilitator dan motivator, mengingat mahasiswa adalah individu yang dinamis. Kedinamisannya memungkinkan dirinya bereksplorasi menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Itulah yang disebut lembaga tinggi sebagai tempat persemaian ilmu pengetahuan (Drost, 1998:194).

Daya nalar yang telah mencapai kematangan tersebut didorong terus untuk mengeksplorasikan keilmuannya yang pada akhirnya dapat menemukan sesuatu, itulah yang disebut penelitian. Dalam dunia perguruan tinggi pengajaran diarahkan pada pencarian kebenaran. Hal ini sesuai dengan paparan Drost (1998: 201) dalam bukunya berjudul: Sekolah Mengajar atau Mendidik? bahwa, tujuan pertama dalam pengajaran di perguruan tinggi adalah mencari kebenaran, karena perguruan tinggi adalah tempat ”pelaku perkembangan”. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dunia perguruan tinggi keberadaannya tidak hanya sebagai pengabdi masyarakat, tetapi juga sebagai kritikus masyarakat. Oleh karena itulah, penulis mengharapkan dunia perguruan tinggi tidak lagi menjadi menara gading. Keberadaannya hendaknya menjadi bagian dari masyarakat secara inheren, bukan sebaliknya. Kenyataan selama ini lembaga pendidikan termasuk dunia perguruan tinggi sering ketinggalan dengan perkembangan masyarakat. Padahal, seharusnya lembaga pendidikan menjadi tempat mencari solusi persoalan di masyarakat.

D. Strategi Pengembangan SDM di Lingkungan Dikdasmen

Guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan, dan mereka berada di titik sentral dari setiap usaha perubahan dan pengembangan pendidikan. Perubahan terus terjadi. Manusia selalu dituntut beradaptasi dengan perubahan itu, tidak terkecuali pendidik. Justru para pendidik yang dianggap sebagai agen perubahan tentu akan memegang peran utama dalam perubahan itu. Apalagi perubahan yang terjadi sekarang ini menuntut adanya daya saing yang tinggi dari tenaga pendidik, karena adanya perkembangan zaman yang semakin kompetitif itu.

Negara-negara di belahan dunia telah mencapai kemajuan yang begitu pesat. Teknologi yang serba canggih juga telah ditemukan oleh manusia. Kemajuan suatu negara tidak mustahil karena mantapnya sistem pendidikan di negara tersebut. Selalu kita dengar suatu jenis penyakit yang muncul belakangan ini membuat resah masyarakat dunia. Di sisi lain berita penemuan suatu riset di suatu lembaga pendidikan, mampu menemukan penangkal dari penyakit tersebut. Demikian terus-menerus kausalitas itu terjadi. Pada ujungnya diharapkan dunia pendidikan dapat menjawab permasalahan dan tantangan yang muncul di masyarakat.

Di Indonesia dunia pendidikan telah berada di babak baru. Keluarnya ketetapan MPR RI tentang 20 persen anggaran belanja negara akan di orientasikan pada sektor pendidikan menjadikan harapan tersendiri bagi dunia pendidikan. Demikian pula keluarnya undang-undang nomor 14 tentang tahun 2005, bagaikan hujan di tengah kemarau panjang. Amanat tersebut sebenarnya sudah lama tertuang dalam UU No. 2/1989 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua. Dalam kesejahteraan guru prinsip tersebut lebih merupakan slogan daripada kenyataan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor kesejahteraan tenaga pendidik akan mempengaruhi tingkat kinerja dalam tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, solusi kebijakan tentang UU No. 14 2005 dan kebijaksanaan lain yang berpihak kepada guru sangat diperlukan untuk mendorong motivasi dan kinerja guru.

Strategi yang lain berkaitan dengan pengembangan SDM di lingkungan pendidikan dasar dan menengah adalah rekrutmen dan penempatan guru. Selama ini pemerintah tidak konsisten dalam pola-pola yang dikembangkan pada rekrutmen calon guru dan penempatan guru. Dalam tingkat tertentu memang telah memperhitungkan kemampuan akademik calon, tetapi dalam aspek-espek kepribadian yang berkaitan dengan tugas-tugas mendatang belum terseleksi dengan baik. Padahal, kedua hal itu sama pentingnya. Apalagi akhir-akhir ini pemerintah membuat kebijakan pengangkatan guru berdasarkan data base atau dengan kata lain merekrut calon guru berdasarkan masa pengabdian (sukwan) tanpa mempertimbangkan sisi kualitas diri personal. Demikian pula pemerataan tenaga pendidik yang masih mengalami kesenjangan. Sebagai misal, daerah-daerah perkotaan terjadi over suplay, sedangkan di daerah-daerah pedesaan kekurangan. Untuk menghindari hal tersebut pemerintah harus mencari terobosan dengan mengangkat guru mengutamakan putra daerah untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Strategi utama dalam pengembangan SDM di lingkungan pendidikan dasar dan menengah adalah peningkatan mutu. Dalam kenyataan, mutu guru amat rendah. Hal ini setidaknya terungkap dalam suatu riset. Dalam riset tersebut disebutkan bahwa banyak guru yang rendah tingkat penguasaan bahan ajar, keterampilan dalam menggunakan metode-metode inovatif dalam mengajar Supriadi, 2001:262). Demikian pula tingkat pendidikannya, sebagian besar guru SD, sekitar separo guru SMP, dan sekitar 20 persen guru SMA masih berpendidikan kurang (Supriadi, 2001: 262). Berdasarkan kenyataan itu pemerintah merekomendasi pembinaan mutu guru melalui pendidikan dalam jabatan, yang penekanannya diberikan pada kemampuan agar dapat meningkatkan efektivitas mengajarnya, mengatasi persoalan-persoalan praktis dalam pengelolaan proses belajar mengajar, dan meningkatkan kepekaan guru terhadap perbedaan individu para siswa yang dihadapinya. Walupun rekomendasi ini dapat dikatakan telah terlambat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita, tetapi upaya tersebut masih dikatakan brilian.

Pemerintah dalam kurun waktu ini telah memprogramkan peningkatan kualifikasi pendidikan guru. Program tersebut diutamakan pada penyetaraan pendidikan. Dengan keluarnya UU 14 tahun 2005 semua guru harus berpendidikan S-1 atau D-4, sesuai dengan bidang profesinya. Demikian pula pemerintah juga meningkatkan kemampuan guru melalui penataran-penataran, mendorong pembinaan pemantapan kerja guru melalui KKG atau MGMP, KKKS, dan sebagainya. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualifikasi guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

E. Unsur-unsur Pemberdayaan Pengembangan SDM

Hal yang tak kalah pentingnya dalam usaha pengembangan tenaga kependidikan adalah pemberdayaan sumber daya manusia. Menurut Supriadi (2001: xliv) ada lima hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk memberdayakan tenaga kependidikan di Indonesia. Kelima hal itu ialah: 1) pengelolaan guru dalam konteks otonomi; 2) pengembangan karier guru; 3) struktur insentif guru; 4) pengangkatan dan penempatan guru; dan 5) mutasi guru. Berkaitan dengan pengelolaan guru dalam konteks otonomi adalah perlunya pelaksanaan otonomi daerah dilakukan secara bertahap dan selektif dengan mempertimbangkan: perluasan kesempatan dan peningkatan mutu, relevansi dan efesiensi dunia pendidikan, integrasi nasional, dan keamanan psikologi guru. Karena itu, perlu ada pembagian kewenangan yang seimbang antara pusat dan daerah.

Berkaitan dengan pengembangan karier, pemerintah perlu melakukan pengelolaan administrasi guru dilakukan secara terintegrasi di bawah satu lembaga atau badan yang menangani administrasi kepegawaian guru dari semua jenjang dan jenis pendidikan, perlu adanya sistem karier guru yang fleksibel yang menunjang mobilitas antarjenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kebutuhan sistem pendidikan, perlu adanya perluasan sistem promosi dalam karier guru di samping sistem progresi yang sudah ada, perlu adanya promosi jabatan guru dikaitkan dengan penugasan khusus, perlu pengkajian ulang atas indikator-indikator dan prosedur pelaksanaan penilaian kinerja guru atas dasar angka kredit agar lebih mencerminkan kemampuan profesional guru dan mengurangi frustrasi yang dialami guru, penilaian kinerja guru hendaknya diserahkan pada sekolah, paling tinggi kabupaten/ kota dengan mengacu pada rambu-rambu yang ditetapkan oleh pusat. Selain angka kredit, rekomendasi kepada sekolah dan pengawas serta penilaian orang tua siswa perlu dijadikan pertimbangan penting dalam penilaian kinerja guru.

Berkaitan dengan sistem intensif guru, perlu peningkatan kesejahteraan guru melalui peningkatan jumlah kumulatif penghasilan guru (gaji pokok dan berbagai tunjangan) hingga minimal dua kali lipat dari keadaan sekarang yang berlaku untuk semua guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan dan dibayar dengan anggaran pemerintah dalam APBN, perbaikan kesejahteraan guru dilaksanakan secara bertahap dengan prioritas pada peningkatan jumlah tunjangan fungsional berdasarkan struktur yang bersifat progresif mengikuti kenaikan pangkat/ jabatan, pemberian subsidi kepada sekolah-sekolah swasta dengan model block grant untuk membantu pembayaran honorarium guru honorer, tunjangan khusus kepada guru-guru yang bertugas di daerah sulit/ terpencil yang diberikan berdasarkan tingkat kesulitan tempat tugas, dan perlindungan yang lebih sngguh-sungguh dari pemerintah terhadap keutuhan penghasilan yang menjadi hak guru.

Berkaitan dengan pengangkatan dan penerimaan guru, untuk jenjang SD perlu diorientasikan pada tenaga-tenaga honorer lulusan SPG/ SGO/ PGA di samping lulusan program D-2 PGSD yang belum diangkat. Lebih dari itu sekarang ini guru harus setingkat S-1 atau D-4, rekrutmen calon guru SD hingga SLTA didesentralisasikan ke kabupaten/ kota dengan memprioritaskan calon-calon yang berasal dari daerah/ wilayah yang bersangkutan.

Selanjutnya, berkaitan dengan mutasi guru, perlu dikembangkan jenis-jenis mutasi berupa persyaratan dan teknis pelaksanaannya yang disertai juklak dan dipedomani secara konsisten di semua tingkatan, penyusunan prioritas mutasi baik atas permintaan sendiri maupun penugasan, pengalokasian dana dari anggaran pendidikan untuk kompensasi biaya mutasi yang bersifat penugasan, pengelolaan administrasi mutasi yang lebih baik  dengan dukungan sistem informasi yang andal, dan peningkatan pengawasan internal serta eksternal oleh anggota masyarakat untuk menjamin pelaksanaan proses mutasi yang sesuai dengan prosedur yang ditetapkan (Supriadi, 2001: xliv-xlvi).

F. Pengembangan SDM Tenaga Pendidik di Lingkungan Dikdasmen Melalui Portofolio

Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/ prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu (Depdiknas, 2007:3). Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

 

Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalam jabatan) adalah untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran (Depdiknas, 2007:3). Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik (Depdiknas, 2007:3).

 

Portofolio juga berfungsi sebagai: (1) wahana guru untuk menampilkan/ membuktikan unjuk kerjanya yang meliputi produktivitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan pendukung; (2) informasi/ data dalam memberikan pertimbangan tingkat kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan; (3) dasar menentukan kelulusan seorang guru yang mengikuti sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidikan atau belum); dan (4) dasar memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan guru.

 

Berdasarkan pedoman penilaian portofolio tersebut terdapat beberapa unsur yang merupakan penunjang kompetensi guru masuk di dalamnya. Adapun kompennsi yang dimaksud adalah:

 

Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S-1, S-2, atau S-3) maupun nongelar (D-4 atau Post Graduate diploma), baik di dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau sertifikat diploma.

 

Pendidikan dan Pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan/ peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/ kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat.

 

Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah/ kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponen ini dapat berupa surat keputusan/ surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.

 

Perencanaan pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaan pembelajaran ini paling tidak memuat perumusan tujuan/ kompetensi, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber /media pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian proses dan hasil belajar. Bukti fisik dari subkomponen ini berupa dokumen Panduan Penyusunan Perangkat Portofolio perencanaan pembelajaran (RP/RPP/SP/RPI) yang diketahui disahkan oleh atasan.

 

Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas dan pembelajaran individual. Kegiatan ini mencakup tahapan prapembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (penguasaan materi, strategi pembelajaran, pemanfaatan media/ sumber belajar, evaluasi, penggunaan bahasa), dan

penutup (refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut). Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang dikelola oleh guru.

 

Pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud adalah kegiatan guru bimbingan dan konseling (konselor) dalam mengelola dan mengevaluasi pelayanan bimbingan dan konseling yang meliputi bidang pelayanan bimbingan pendidikan/belajar, karier, pribadi, sosial, akhlak mulia/budi pekerti. Jenis dokumen yang dilaporkan berupa: agenda kerja guru bimbingan dan konseling, daftar konseli (siswa), data kebutuhan dan permasalahan konseli, laporan bulanan, laboran semesteran/ tahunan,

 

Berdasarkan paparan tersebut penulis berpendapat bahwa pengembangan sumber daya manusia tenaga pendidik di lingkungan pendidikan dasar dan menengah melalui sertifikasi portofolio baik untuk terus dijadikan patokan kemampuan, mengingat semua komponen kompetensi guru telah tercakup di dalamnya, tetapi hal-hal lain secara riil juga perlu diambil sebagai bukti nyata terhadap kemampuan. Untuk itu perlu dibuatkan regulasinya agar kompetensi riil tersebut dapat pula diketahui secara jelas.

 

G. Pengembangan SDM di Lingkungan Dikdasmen Dilakukan Secara Learning Countinously

Guru adalah profesi mulia yang penuh dengan tanggung jawab. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi guru. Lebih-lebih guru pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Selain kemampuan keilmuan, guru pada tingkat tersebut juga harus memiliki jiwa yang besar, karena mereka dihadapkan pada keadaan psikologi anak yang masih labil menuju keadaan jiwa yang stabil.

 

Sebagai guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, mereka dituntut untuk selalu mengembangkan diri dan mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, mereka juga dituntut untuk selalu mencari inovasi pembelajaran yang tepat untuk peserta didik. Ukuran keberhasilan pendidikan ditentukan oleh mutu proses belajar dilakukan. Artinya proses belajar yang cocok dengan apa yang diharapkan oleh siswa, jauh melampaui apa yang diharapkan maka pendidikan itu disebut bermutu (Mastuhu, 2003:65).

 

Profesi sebagai guru selalu mengikuti perkembangan zaman. Tuntutan belajar bagi seorang guru harus dilakukan secara terus menerus (learning countinously) tanpa batas. Hal itu sesuai dengan ajaran agama Islam bahwa menuntut ilmu bisa dilakukan sejak di dalam kandungan sampai di liang kubur. Seorang guru yang enggan berinovasi diri, mengembangkan diri, dan kemauan diri, maka ia akan tertinggal dengan murid-muridnya.

 

Guru yang ideal adalah guru yang memiliki paradigma akademik. Paradigma akademik yang dimaksud adalah memiliki visi, misi, tujuan, dan strategi untuk mencapai cita-cita pendidikan yang direncanakan (Mastuhu, 2003:66). Wawasan akademik yang dimaksud ialah meliputi kemampuan menjabarkan visi, misi, tujuan dan strategi. Selain itu, harus pula memiliki metodologi yang kuat (konsep ilmiah yang baik), arah pikiran yang jelas, pandangan dunia, dan ideologi (Mastuhu, 2003: 72-75).

 

Mengingat demikian beratnya amanah yang harus diemban oleh guru, maka sudah selayaknya pekerjaan guru diakui sebagai pekerjaan profesional. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari pula tuntutan seorang guru untuk selalu mengembangkan diri dalam setiap waktu harus terus diwujudkan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Moch. Idochi. 2004. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Drost S.J., J.I.G.M. 1998. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta: Kanisius.

Depdiknas. 2007. Penyususnan Prangkat Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Jakarta.

Koeslita. 2007. “Pengembangan Tenaga Pendidik dan Kependidikan Tingkat SLTA yang Berorientasi Kebutuhan Individu dan Kebutuhan Organisasi”. Makalah. SPS UPI Bandung.

Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Pidarta, Made. 1997. Landasan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Supriadi, Dedi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Wibowo. 2006. Manajemen Perubahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 


1 Dosen tetap (PNS) pada Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang. Menyelesaikan Program Doktor (S-3) pada Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan predikat cumlaude.

3 PP Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan yang dikeluarkan oleh Presiden RI.

Categories: Uncategorized Tags:

Warsiman sekeluarga 2

Foto di Kebun Binatang

Categories: Uncategorized Tags:

Warsiman sekeluarga

oyes

Categories: Uncategorized Tags:

Analisis Wacana Monolog: Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan

ANALISIS WACANA MONOLOG

(Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan)

Oleh

Dr. Warsiman, M.Pd.1

 

A.    Pendahuluan

Kita sering mendengar kata-kata wacana. Akhir-akhir ini banyak para politikus mengucapkan kata-kata itu dalam kaitannya dengan kebijaksanaan publik. Sebagai misal, “Bentuk negara kesatuan adalah final dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau ada usulan agar Indonesia menganut sistem federal itu hanya sekedar wacana”.

Kata wacana yang dalam istilah asing disebut discourse adalah klaster kalimat yang memiliki satu kesatuan informasi yang komunikatif (Djajasudarmo, 1994:1). Menurut Kridalaksana (1993:231) wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Sementara itu, menurut Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73) wacana diartikan sebagai suatu konstruksi yang terdiri atas kalimat yang satu diikuti oleh kalimat yang lain, yang merupakan suatu keutuhan konstruksi dan makna. Wacana dapat berbentuk karangan, paragraf, kalimat, frase, atau kata yang menyampaikan amanat lengkap (Depdikbud, 1985:39).

Bentuk wacana sebenarnya dapat berupa wacana lisan maupun wacana tertulis. Wacana tertulis oleh sebagian besar orang disebut teks, sedangkan wacana lisan jika seseorang ingin menganalisis harus ditanskrip terlebih dahulu ke dalam tulisan. Oleh karena itu, orang juga akan menyebutnya teks. Dengan demikian, wacana baik lisan maupun tertulis disebutnya dengan teks.

Istilah wacana sendiri pertama kali dikenalkan oleh Firth (1935) seorang ahli bahasa. Ia menganjurkan studi wacana melalui gagasannya bahwa konteks situasi perlu diteliti oleh para linguis, karena studi bahasa dan kerja bahasa sesungguhnya berada pada konteks. Lebih lanjut Firth (1935) mengatakan bahwa studi bahasa tidak dapat dilakukan bila hanya bergantung pada penataan-penataan linier, tetapi studi bahasa harus meliputi gramatikal dan makna (Djajasudarmo, 1994:2), sedangkan di Indonesia istilah wacana ini baru muncul sekitar tahun 1970-an.

Setiap ahli bahasa akan berpendapat lain dalam hal wacana, tetapi secara patron pendapat itu akan mengerucut dalam satu pengertian yang sama. Yang terpenting pengertian wacana selalu mengacu pada karangan, yakni karangan yang utuh baik dalam bentuk paragraf, kalimat, klausa, frasa.  Bahkan, kata yang bersifat gramatikal tertinggi dan beralur kohesi serta koherensi.

Menurut Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73), sebuah wacana harus memenuhi syarat kewacanaan. Adapun syarat kewacanaan suatu teks wacana setidaknya ada tujuh syarat. Ketujuh syarat itu ialah: 1) kohesi, artinya bagaimana komponen yang satu berhubungan dengan komponen yang lain; 2) koherensi, maksudnya bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep berhubungan menjadi relevan dan saling mengikat; 3) intesionalitas, yaitu sikap penghasil wacana agar perangkat kejadian-kejadian membentuk sarana teks bersifat kohesif maupun koheren dalam melaksanakan keinginan penghasil, karena ada kalanya suatu wacana yang mengandung intensionalitas tidak memperhatikan kekohesifan; 4) akseptabilitas, artinya suatu wacana menunjukkan seberapa besar keberterimaanya bagi penerima wacana; 5) informatifitas, yaitu seberapa besar suatu wacana berkadar informasi bagi penerima wacana; 6) situasionalitas, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan suatu wacana relevan dengan situasi yang sedang berlangsung; dan 7) keinterwacanaan, artinya segala hal yang berurusan dengan faktor-faktor yang menyebabkan penggunaan wacana yang satu bergantung pada pengetahuan tentang suatu wacana lain yang ditemui sebelumnya (cf. Pranowo, 1996:75).

Makalah ini akan mengupas prihal analisis wacana terutama analisis wacana monolog. Untuk memahami lebih dalam tentang analisis wacana monolog berikut ini penyajiannya.

B.    Analisis Wacana Monolog

1.     Pengertian Analisis Wacana

Analisis wacana atau dalam literatur asing disebut discourse analysis adalah analisis bahasa dalam penggunaan (Kaseng, 1989:159). Menurut Kaseng, penggunaan bahasa sebenarnya tidak terpisahkan dari analisis wacana (1989:159). Masudnya, berbahasa  berarti juga melakukan analisis wacana, baik disadari maupun tidak.

Sementara itu, Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73-74) berpendapat bahwa pada dasarnya analisis wacana adalah sebuah keinginan untuk melakukan analisis/interpretasi pesan yang diinginkan oleh pembicara/penulis dengan cara merekonstruksi teks sebagai produk ujaran/tulisan kepada proses ujaran/tulisan sehingga diketahui segala konteks yang mendukung wacana pada saat diujarkan/dituliskan. Hal senada juga disampaikan oleh Pranowo (1996:77) bahwa analisis wacana pada dasarnya adalah menganalisis penggunaan bahasa dalam konteks. Maksudnya, analisis wacana akan mendeskripsikan apa yang dimaksudkan oleh pembicara dan pendengar melalui wacana tersebut, dan oleh karena bahasa selalu terjadi dalam konteks, maka yang terlibat di dalamnya bisa berupa: konteks kultural yaitu, sekaitan dengan kesamaan arti dan pandangan tentang dunia, kontek sosial yaitu, yang berkenaan dengan identifikasi diri seseorang yang dikaitkan dengan orang lain yang menciptakan aturan dan cara mengerti situasi dan tingkah laku, dan konteks kognitif yaitu, tempat mengaitkan pernyataan dengan pengalaman lampau dan pengetahuan (cf. Kaseng, 1989:161-162).

Sebagaimana pandangan para ahli bahasa bahwa, setiap pernyataan akan selalu dalam kaitannya dengan konteks. Sekurang-kurangnya adalah konteks kognitif. Mereka meyakini bahwa kalimat-kalimat yang lepas dan yang muncul dalam analisis gramatika, dan yang didasarkan atas intuisi individual pun tidak terlepas dari konteks, yakni konteks kognitif. Bahkan, lebih jauh dari itu, bukan hanya intuisi kegramatikalan kalimat yang terkait dengan konteks, intuisi tentang arti semantik pun berada dalam sebuah konteks.

Analisis wacana sering pula berganti istilah dengan nama studi wacana, atau yang dimaknai lebih sempit lagi yakni, studi tentang kalimat-kalimat yang berkaitan dan dihasilkan oleh seorang pembicara. Analisis wacana adalah sebuah serpihan linguistik yang sedang tumbuh dan berkembang dalam prosesnya untuk menjadi cabang ilmu baru bagian dari linguistik. Analisis wacana mengambil posisi sebagai bagian linguistik yang meneliti satuan bahasa serta penggunaannya.

Sekalipun analisis wacana kedudukanya masih baru. Bahkan, merupakan ilmu yang baru berkembang mencari jati diri, tetapi keberadaanya sudah lama diapresiasi oleh pengguna bahasa mungkin tanpa mereka sadari.

2. Pengertian Wacana Monolog

Menurut Syamsuddin dkk. (1997/1998:163) yang dimaksud dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang tidak termasuk dalam lingkungan percakapan, tanya jawab, teks drama atau film, dan betuk-bentuk lain yang sejenis, termasuk juga wawancara. Syamsuddin memberikan contoh jenis-jenis wacana monolog lisan, diantaranya ialah pidato, khotbah, mengajar dan lain-lain, sedangkan jenis-jenis wacana monolog tulisan misalnya, pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita dan lain-lain dengan persyaratan dibentuk oleh sebuah kalimat/tuturan yang beruntun dan berkaitan berdasarkan atas kesatuan isi, tujuan dan situasinya.

Jadi, dapat disimpulkan di sini bahwa yang disebut dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang disampaikan searah bukan dialogis, beruntun dan berkaitan berdasarkan kesatuan isi, tujuan dan situasi.

Wacana monolog memiliki perbedaan yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan wacana dialog. Perbedaan tersebut diantaranya terletak pada aspek tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara.  Pada wacana monolog tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara tidak diperlukan, karena wacana monolog sifatnya searah bukan dua arah sebagaimana wacana dialog. Kalaupun terjadi, misalnya guru mengajar, hal itu hanya kebetulan saja, dan tidak sedikit pun menunjukkan sifat wacana dialog. Contoh yang konkrit dalam tradisi Jawa misalnya, seorang dalang pada suatu pagelaran wayang (kulit, krucil, thengul dll.).

3.     Analisis Wacana Monolog

Untuk melakukan kegiatan analisis wacana monolog ada  beberapa hal penting yang tidak dapat ditinggalkan. Hal yang dimaksud yakni, yang berhubungan dengan rangkaian dan kaitan tuturan, berhubungan dengan penunjukkan atau perujukan, serta berhubungan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana.

a. Rangkaian dan Kaitan

Rangkaian yang dimaksud dalam analisis wacana monolog di sini adalah segala bentuk hubungan antartuturan baik pada tataran antarkalimat dalam sebuah kalimat, maupun dalam leksikon pada satu kesatuan wacana monolog, sedangkan kaitan yang dimaksud di sini diartikan dengan segala bentuk hubungan yang terjadi antara satu alinea dengan alinea lain dalam satu kesatuan wacana monolog (Syamsuddin, 1997/1998:164).

Dalam wacana monolog, rangkaian yang dijadikan sebagai perangkai antartuturan banyak sekali jenisnya. Jenis-jenis yang dimaksud antara lain sebagai berikut: 1) penyambungan (conjunction); 2) alternatif; 3) perluasan/penjelasan; 4) jawaban; 5) sebab akibat; 6) perbandingan (comparison); 7) pertentangan (contrast); 8) pembatasan/pengertian (definition); 9) evaluasi (evaluation); 10) pembuktian/penguatan (evidence); 11) pemberian contoh (exaplification); 12) generalisasi; 13) penyimpulan (inference); 14) kesejajaran/paralel; 15) pertanyaan; 16) relasi tindakan; 17) pernyataan ulang; 18) hasil/akhirnya (result); 19) rangkuman/ringkasan (summary); 20) elipsis; 21) penggantian (substitution); 22) keterangan (exposition); dan 23) uraian (explanation) (Syamsuddin, 1992:81).

Kendati rangkaian banyak sekali jenisnya, tetapi untuk menerapkan ke dalam suatu tuturan baik antarkalimat maupun ke dalam tuturan antarleksikon diperlukan pengklasifikasian melalui sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap bentuk rangkaian tersebut, dan tidak semua rangkaian itu dapat diterapkan ke dalam suatu analisis wacana monolog, atau dengan kata lain belum tentu seluruhnya di jumpai dalam suatu kesatuan wacana.

b. Rujukan/Penunjukan

Dalam wacana monolog, rujukan atau penunjukan dapat dilakukan antara lain berdasarkan arah, sifat atau jenisnya. Berdasarkan arah, rujukan atau penunjukkan dibagi menjadi: 1) penunjukan ke dalam wacana itu sendiri yang disebut endophoric reference;  dan 2) penunjukkan ke luar dari wacana itu yang disebut dengan exophoric reference. Penunjukkan ke dalam wacana itu sendiri menurut ketetapan masih di bagi lagi yaitu, penunjukkan yang kembali kepada yang sudah disebut sebelumnya (penunjukkan ke atas) atau yang disebut anaphoric reference, dan penunjukkan kepada yang berikutnya (penunjukkan ke bawah) atau disebut dengan cataphoric reference (Syamsuddin,  1997/1998:171). Demikian pula penunjukkan yang dilakukan berdasarkan sifat atau jenisnya dapat dibagi menjadi: 1) penunjukkan proposal. Penunjukkan ini biasanya menggunakan nama orang atau benda; 2) penunjukkan demonstratif. Penunjukkan ini biasanya untuk menentukan tempat atau sesuatu dengan mempergunakan kata penunjuk sesungguhnya; dan 3) penunjukan perbandingan. Penunjukkan ini bersifat tak langsung, dan biasanya menggambarkan kesamaan, kemiripan, perbedaan, pertentangan dan lain-lain sifat dari sesuatu (Syamsuddin, 1997/1998:173).

Rujukan atau penunjukkan pada umumnya ditandai oleh kata-kata penunjuk sebenarnya seperti: ini, itu, di sini, di situ, maupun oleh kata-kata penunjuk yang tidak sebenarnya, seperti: tersebut, terkatakan, tersurat, berikut, dan lain-lain, dan kadang-kadang ditandai pula oleh kata-kata lain selain kata penunjuk  (Syamsuddin, 1992:86). Pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antarkalimat dalam suatu wacana bisa ditandai oleh kata-kata penunjuk, kata keterangan/pengulangan kata ganti, ungkapan penghubung antarkalimat, dan persangkaan (Depdikbud, 1985:40-41). Misal:

1) makanan kita harus bermacam-macam, seperti daging, sayuran, buah-buahan, dan susu. Makanan itu membuat kita sehat dan kuat.

2) uap air yang naik (ke atas) makin lama makin banyak dan membentuk awan. Uap air yang membentuk awan tadi makin tinggi makin dipengaruhi oleh suhu sekelilingnya.

Kata penunjuk itu yang mengacu kepada macam makanan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya dan pengulangan kata ganti kita dan kata makanan dapat memadukan hubungan antarkalimat pada contoh 1). Demikian pula halnya kata keterangan tadi pada contoh 2). kata tadi yang mengacu kepada pernyataan pada kalimat sebelumnya itu dapat memadukan hubungan antar kalimat pada contoh itu. Kemudian, yang menyatakan ungkapan penghubung seperti pada contoh berikut ini.

3) Bu Yanti adalah pedagang kaya. Meskipun demikian, dia hidup sederhana.

4) Warsiman selalu belajar keras. Oleh karena itu, nilai-nilai baik.

Frase meskipun demikian dan oleh karena itu dalam kalimat tersebut adalah ungkapan penghubung antarkalimat yang mengacu kepada kalimat pertama masing-masing contoh kalimat tersebut. Ungkapan itu dapat memadukan hubungan antarkalimat. Ungkapan seperti, akan tetapi, sehubungan dengan itu, dengan kata lain, akhirnya, namun, jadi dan sebagainya merupakan ungkapan penghubung antarkalimat.

Selanjutnya, yang menyatakan hubungan persangkaan. Hubungan persangkaan yaitu penanda hubungan antarkalimat dalam wacana yang tidak menggunakan penanda hubungan tertentu. Hubungan tersebut hanya dapat dilihat berdasarkan penalaran asosiatif. Perhatikan contoh berikut ini.

5) Eksperimen tentang susunan dan persendian tulang ayam dikerjakan dalam kelompok yang terdiri dari dua orang siswa. Perhatikan tulang-tulang ayam  yang ada di mejamu! Keras atau lunakkah tulang ayam? Tulang ayam terdiri dari zat apa? Tulang bagian tubuh apakah yang kamu selidiki? Dapatkah kamu menemukan hubungan antara tulang-tulang yang merupakan sendi dengan yang tidak merupaka sendi? Bincangkan dengan temanmu!

c. Pola Pikiran dan Pengembangan Wacana

Berkaitan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana serta pertaliannya dengan usaha mempermudah analisis, perlu kiranya dikemukakan di sini beberapa hal tentang wacana. Bahwa, wujud wacana dapat pula berupa sebuah alinea. Bahkan, wujud ini dianggap sebagai bentuk wacana yang paling kecil. Sekait dengan itu, dalam pembahasan ini akan ditalikan dengan variasi dan pengembangan alinea.

Menurut Syamsuddin (1992:88), sebuah alinea dibentuk oleh sekelompok kalimat, dan kelompok kalimat tersebut merupakan satu kesatuan maksud. Alinea atau yang disebut pula dengan paragraf selalu ditandai oleh adanya  garis baru berikutnya.  Garis baru dalam sebuah alinea tersebut ditandai oleh garis yang menjorok ke dalam dari garis margin, dan kurang lebih lima sampai tujuh ketukan atau kadang-kadang delapan ketukan.

Demikian pula Syamsuddin menjelaskan (1992:88) bahwa, dalam sebuah alinea terdapat sekurang-kurangnya tiga unsur di dalamnya. Ketiga unsur itu adalah:  1) adanya sebuah kalimat inti (topic sentences) yang merupakan pokok pikiran utama pada alinea itu; 2) adanya seri kalimat lain yang berkelompok dengan kalimat inti sebagai keterangan/penjelasan/uraian dari kalimat inti tersebut; dan 3) adanya keterangan-keterangan dari bagian-bagian utama pada kalimat-kalimat tersebut, terutama kalau alinea itu hanya terdiri atas satu kalimat panjang saja. Dalam hal ini, topik kalimat adalah inti sebuah kalimat.

Selanjutnya, dalam suatu alinea terdapat sifat-sifat tertentu yang memungkinkan sebuah alinea mudah dikenali. Sifat-sifat tersebut ialah:

1) sebagai uraian/penjelasan/keterangan terhadap salah satu aspek terkecil dari masalah yang dibahas dalam keterangan ini;

2) sebagai pengikat pokok-pokok pikiran terkecil dari aspek suatu karangan, yang disatukan dalam kelompok kalimat, sehingga unsur-unsur yang terkandung dalam aspek terkecil itu tidak berserakan;

3) sebuah alinea pada dasarnya juga merupakan topik terkecil dari masalah itu sekalipun pada alinea tidak pernah dituliskan judul/topik atau titel itu. Jadi, ada judul/topik tersembunyi pada sebuah alinea; dan

4) kalimat-kalimat yang terdapat dalam satu alinea diikat atau diarahkan oleh topik kecil alinea itu dan hubungannya rapat sekali dengan topik alinea (Syamsuddin dkk, 1997/1998:175).

Berdasarkan letak topik kalimat, sebuah wacana dapat digolongkan menjadi empat jenis. Keempat jenis tersebut ialah: 1)  topik kalimat terletak pada awal/permulaan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada awal/permulaan alinea biasanya  bersifat menguraikan sesuatu atau menjelaskan pendapat. Sebenarnya pengertian tentang permulaan alinea pada penjelasan tersebut bukan mengandung maksud hanya pada kalimat pertama saja topik kalimat itu dimunculkan, melainkan kalimat-kalimat pada bagian permualaan suatu alinea. Istilah lain menurut penulis adalah alinea atau paragraf induktif; 2) topik kalimat terletak pada pertengahan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada pertengahan alinea biasanya dijumpai pada alinea yang mengandung pengantar dan penutup, sedangkan bagian tengah merupakan pokok persoalan bagi alinea itu; 3) topik kalimat terletak pada akhir alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada akhir alinea biasanya merupakan suatu keputusan atau pembuktian terhadap masalah kecil pada alinea itu; dan 4) wacana yang alineanya terdiri atas satu kalimat. Wacana yang alineanya terdiri atas sebuah kalimat saja berarti seluruh pokok pikiran yang diperlukan pada alinea itu sudah dapat dirumuskan oleh kalimat tersebut secara jelas dan menyeluruh.

Dalam pendapat lain pembagian alinea atau paragraf ditentukan oleh letak kalimat tumpuan (kalimat topik) dalam paragraf bersangkutan, dan penggolongan atas alinea atau paragraf tersebut adalah sebagai berikut: 1) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal paragraf; 2) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada akhir paragraf; 3) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal dan akhir paragraf; dan 4) paragraf yang kalimat tumpuannya tersirat dalam keseluruhan paragraf (Depdikbud, 1985:42). Dua pendapat itu pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, kendati diuraikan dengan jalan pikiran yang berbeda.

4.  Pengembangan Alinea

Dalam pengembangan alinea hal terpenting yang perlu mendapat perhatian adalah unsur-unsur yang menjadi pengembang dari suatu alinea. Beberapa hal penting yang menjadi unsur pengembang dari suatu alinea antara lain:

1) fakta atau hal-hal yang sensitif, maksudnya, dalam upaya mengembangkan sebuah alinea setidaknya kita harus mencari objek untuk dijadikan sebagai bahan pengembangan. Dalam hal ini bisa sesuatu yang disetujui atau hal yang tidak disetujui oleh khalayak, dengan penyampaian ergumen-argumen kebaikan atau ketidakbaikan sesuatu berdasarkan fakta. Misal:  ”Tidur di bawah pohon malam hari tidak baik bagi kesehatan” , topik kalimat ini diyakini semua orang yang memahami kesehatan akan berpendapat yang sama, maka kalimat-kalimat lain yang diperlukan untuk memperluas dan melengkapi kalimat itu sebagai alinea adalah fakta-fakta tentang kejelekkan tidur di bawah pohon malam hari yang dikemukakan dalam bentuk kalimat-kalimat tambahan. Selain itu, dapat pula dipergunakan argumen lain yang spesifik yang dapat memperkuat topik kalimat tersebut.

2) contoh-contoh sebagai unsur, maksudnya, dalam mengembangkan sebuah alinea dapat juga mengambil contoh sesuatu hal untuk dikembangkan. Misal:  ”rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya”, kita dituntut untuk melengkapi dengan kalimat-kalimat lain yang merupakan contoh-contoh tentang kebenaran pernyataan itu. Untuk mengembangkan menjadi suatu alinea pada dasarnya bergantung dari tujuan kita terhadap main topic tersebut.

3) Insiden/kejadian sebagai unsur, maksudnya suatu insiden atau kejadian baik yang kita alami sendiri maupun yang dialami orang lain dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan sebuah alinea. Demikian pula dengan insiden/kejadian yang tidak terduga/ tidak direncanakan, baik yang kita alami atau dialami orang lain.

4) sekelumit cerita sebagai unsur, maksudnya sekelumit cerita dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan alinea. Biasanya pengarang mempunyai maksud untuk menarik perhatian pembaca atau untuk menyegarkan perasaan pembaca dari suatu situasi yang sebelum atau sesudah alinea itu. Oleh karena itu, alinea itu sengaja diciptakan oleh pengarang sekedar untuk selingan agar pembaca memiliki semangat dan hasrat kembali. Karangan yang beralinea model ini penggunaannya boleh pada karangan ilmiah, populer lebih-lebih pada sastra.

5) alasan/sebab sebagai unsur, maksudnya bahwa, alasan/sebab dapat pula dijadikan sebagai alat pengembang sebuah alinea. Bahkan, kenyataan di masyarakat tidak semua orang dapat menerima pendapat orang lain apabila tidak disertai dengan alasan-alasan yang rasional dan meyakinkan. dalam karangan ilmiah pengembangan alinea model ini sangat dibutuhkan.

5. Teknik Pengembangan Alinea

Mungkin semua orang akan berpendapat bahwa, kendati alinea itu hanya terdiri dari beberapa kalimat atau sebuah kalimat saja, tetapi cara penyusunan dan pengembangannya tidak semudah yang kita bayangkan, lebih-lebih jika kita tidak mengetahui langkah-langkah praktis atau teknis penyusunannya. Untuk mengatasi kesulitan tersebut Syamsuddin (1997/1998) menjelaskan langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan. langkah-langkah itu ialah:

a. Tentukan dahulu topik bagi alinea itu;

b. Catat semua hal yang menurut anda ada hubungannya dengan topik alinea itu. Tidak usah terlalu panjang, cukup pokok-pokok saja. Kemudian, anda seleksi mana yang tepat dan mana yang tidak;

c. Susun secara sistematis urutan unsur-unsur bagi alinea itu mulai dari topik disusul dengan penjelasan-penjelasannya;

d. Tentukan gaya penulisannya, apakah dimulai dengan kalimat topik atau dengan varisasi yang lain;

e. Akhirnya jadikan unsur yang berurutan itu paling sedikit satu kalimat untuk satu unsur.

Contoh kerangka alinea:

Topik    : Rapat akhir tahun RT 27 (dalam rangkaian wacana berjudul:  Evaluasi Kinerja Rukun Tetangga RT: 27 RW: 08 Perum Jalagriya Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo)

Detail   : 1. Ketua RT—program yang telah dicapai selama ini

2. Sekretaris RT—program yang masih tersisa

3. Warga—usulan tentang perlunya dibentuk koordinator gang

4. Warga—usulan tentang penetapan iuran dana pembangunan saluran air got

5. Bendahara—pengumpulan dana iuran pembangunan saluran air got

Contoh bentuk final kerangka tersebut

Rapat akhir tahun RT 27  malam ini adalah mendengarkan paparan ketua RT tentang program-program yang telah dan yang belum dicapai dalam tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan rukun tetangga 27. Rapat seperti ini selalu diselenggarakan untuk evaluasi kinerja ke depan agar lebih baik dalam pencapaian program berikutnya. Ketua RT memaparkan beberapa program yang telah dicapai dalam rencana jangka pendek tersebut. Program-program yang telah dicapai itu misalnya, pembangunan balai RT, pembangunan gapura masuk dan pemasangan listrik di sepanjang jalan masuk wilayah RT 27. Namun, masih ada sisa rencana jangka pendek yang belum dicapai. Sebagaimana yang dipaparkan oleh sekretaris RT bahwa masih ada satu program yang juga dianggap penting untuk direalisasikan. Program itu adalah pembangunan saluran air got yang tidak bisa mengalir jika musim hujan turun. Oleh karena itu, perlu ada kesepakan bersama tentang rencana tersebut. Untuk mengatasi persoalan itu apakah penanganannya dibebankan di pundak RT secara keseluruhan atau di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Warga mengusulkan agar penanganannya dibebankan di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Oleh karena itu,  maka perlu dibentuk seorang koordinator gang yang mengetuai/menggerakan masyarakat di tiap-tiap gang tersebut. Warga yang lain menyerukan ditetapkannya jumlah iuran dana yang akan digunakan untuk pembangunan saluran air got tersebut, jika perlu malam ini pula ditetapkan dalam forum ini. Bendahara menyarankan agar dibentuk pula bendahara gang sebagai tempat pengumpulan dana tersebut, dan tidak perlu ditampung dalam bendahara RT, agar tidak menyulitkan penggunaan uang tersebut sewaktu-waktu dibutuhkan. Akhirnya rapat malam itu berjalan dengan baik dan program-program yang mesih belum direalisasikan ditetapkan sebagai masalah penting yang perlu penanganan secepatnya.

 

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Djajasudarmo, Fatimah T. 1994. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: PT Eresco.

Depdikbud. 1985. Panduan Penggunaan Kata, Kalimat, dan Wacana. Jakarta: Depdikbud.

Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan: Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Depdikbud.

Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatis. Bandung: Penerbit Angkasa.

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.

Syamsuddin A.R, dkk. 1997/1998. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Bandung: Depdikbud.

Syamsuddin A.R. 19992. Studi Wacana: Teori Analisis Pengajaran. Bandung: FPBS IKIP Bandung.

Wahab, Abd. 1991. Isu Linguistik: Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.


1 Lektor Kepala pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:

Analisis Wacana Monolog: Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan

ANALISIS WACANA MONOLOG

(Sebuah Upaya Memahami Teori Merangkai Suatu Gagasan)

Oleh

Dr. Warsiman, M.Pd.1

 

A.    Pendahuluan

Kita sering mendengar kata-kata wacana. Akhir-akhir ini banyak para politikus mengucapkan kata-kata itu dalam kaitannya dengan kebijaksanaan publik. Sebagai misal, “Bentuk negara kesatuan adalah final dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau ada usulan agar Indonesia menganut sistem federal itu hanya sekedar wacana”.

Kata wacana yang dalam istilah asing disebut discourse adalah klaster kalimat yang memiliki satu kesatuan informasi yang komunikatif (Djajasudarmo, 1994:1). Menurut Kridalaksana (1993:231) wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Sementara itu, menurut Samsuri (1986, dalam Pranowo, 1996:73) wacana diartikan sebagai suatu konstruksi yang terdiri atas kalimat yang satu diikuti oleh kalimat yang lain, yang merupakan suatu keutuhan konstruksi dan makna. Wacana dapat berbentuk karangan, paragraf, kalimat, frase, atau kata yang menyampaikan amanat lengkap (Depdikbud, 1985:39).

Bentuk wacana sebenarnya dapat berupa wacana lisan maupun wacana tertulis. Wacana tertulis oleh sebagian besar orang disebut teks, sedangkan wacana lisan jika seseorang ingin menganalisis harus ditanskrip terlebih dahulu ke dalam tulisan. Karena itu, orang juga akan menyebunya teks. Dengan demikian, wacana baik lisan maupun tertulis disebutnya dengan teks.

Istilah wacana sendiri pertama kali dikenalkan oleh Firth (1935) seorang ahli bahasa. Ia menganjurkan studi wacana melalui gagasannya bahwa konteks situasi perlu diteliti oleh para linguis, karena studi bahasa dan kerja bahasa sesungguhnya berada pada konteks. Lebih lanjut Firth mengatakan bahwa studi bahasa tidak dapat dilakukan bila hanya bergantung pada penataan-penataan linier, tetapi studi bahasa harus meliputi gramatikal dan makna (Djajasudarmo, 1994:2), sedangkan di Indonesia istilah wacana ini baru muncul sekitar tahun 1970-an.

Setiap ahli bahasa akan berpendapat lain dalam hal wacana, tetapi secara patron pendapat itu akan mengerucut dalam satu pengertian yang sama. Yang terpenting pengertian wacana selalu mengacu pada karangan, yakni karangan yang utuh baik dalam bentuk paragraf, kalimat, klausa, frasa bahkan kata yang bersifat gramatikal tertinggi dan beralur kohesi serta koherensi.

Menurut Samsuri sebuah wacana harus memenuhi syarat kewacanaan. Adapun syarat kewacanaan suatu teks wacana setidaknya ada tujuh syarat. Ketujuh syarat itu ialah: 1) kohesi, artinya bagaimana komponen yang satu berhubungan dengan komponen yang lain; 2) koherensi, maksudnya bagaimana komponen-komponen wacana yang berupa konfigurasi konsep berhubungan menjadi relevan dan saling mengikat; 3) intesionalitas, yaitu sikap penghasil wacana agar perangkat kejadian-kejadian membentuk sarana teks bersifat kohesif maupun koheren dalam melaksanakan keinginan penghasil, karena ada kalanya suatu wacana yang mengandung intensionalitas tidak memperhatikan kekohesifan; 4) akseptabilitas, artinya suatu wacana menunjukkan seberapa besar keberterimaanya bagi penerima wacana; 5) informatifitas, yaitu seberapa besar suatu wacana berkadar informasi bagi penerima wacana; 6) situasionalitas, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan suatu wacana relevan dengan situasi yang sedang berlangsung; dan 7) keinterwacanaan, artinya segala hal yang berurusan dengan faktor-faktor yang menyebabkan penggunaan wacana yang satu bergantung pada pengetahuan tentang suatu wacana lain yang ditemui sebelumnya (cf. Pranowo, 1996:75).

Makalah ini akan mengupas prihal analisis wacana terutama analisis wacana monolog. Untuk memahami lebih dalam tentang analisis wacana monolog berikut ini penyajiannya.

B.    Analisis Wacana Monolog

1.     Pengertian Analisis Wacana

Analisis wacana atau dalam literatur asing disebut discourse analysis adalah analisis bahasa dalam penggunaan (Kaseng, 1989:159). Menurut Kaseng, penggunaan bahasa sebenarnya tidak terpisahkan dari analisis wacana (1989:159). Masudnya, berbahasa  berarti juga melakukan analisis wacana, baik disadari maupun tidak.

Sementara itu, Samsuri berpendapat bahwa pada dasarnya analisis wacana adalah sebuah keinginan untuk melakukan analisis/interpretasi pesan yang diinginkan oleh pembicara/penulis dengan cara merekonstruksi teks sebagai produk ujaran/tulisan kepada proses ujaran/tulisan sehingga diketahui segala konteks yang mendukung wacana pada saat diujarkan/dituliskan (Pranowo, 1996:73-74). Hal senada juga disampaikan oleh Pranowo bahwa analisis wacana pada dasarnya adalah menganalisis penggunaan bahasa dalam konteks (1996:77). Maksudnya, analisis wacana akan mendeskripsikan apa yang dimaksudkan oleh pembicara dan pendengar melalui wacana tersebut, dan karena bahasa selalu terjadi dalam konteks, maka yang terlibat di dalamnya bisa berupa: konteks kultural yaitu, sekaitan dengan kesamaan arti dan pandangan tentang dunia, kontek sosial yaitu, yang berkenaan dengan identifikasi diri seseorang yang dikaitkan dengan orang lain yang menciptakan aturan dan cara mengerti situasi dan tingkah laku, dan konteks kognitif yaitu, tempat mengaitkan pernyataan dengan pengalaman lampau dan pengetahuan (cf. Kaseng, 1989:161-162).

Sebagaimana pandangan para ahli bahasa bahwa, setiap pernyataan akan selalu dalam kaitannya dengan konteks. Sekurang-kurangnya adalah konteks kognitif. Mereka meyakini bahwa kalimat-kalimat yang lepas dan yang muncul dalam analisis gramatika, dan yang didasarkan atas intuisi individual pun tidak terlepas dari konteks, yakni konteks kognitif. Bahkan, lebih jauh dari itu, bukan hanya intuisi kegramatikalan kalimat yang terkait dengan konteks, intuisi tentang arti semantik pun berada dalam sebuah konteks.

Analisis wacana sering pula berganti istilah dengan nama studi wacana, atau yang dimaknai lebih sempit lagi yakni, studi tentang kalimat-kalimat yang berkaitan dan dihasilkan oleh seorang pembicara. Analisis wacana adalah sebuah serpihan linguistik yang sedang tumbuh dan berkembang dalam prosesnya untuk menjadi cabang ilmu baru bagian dari linguistik. Analisis wacana mengambil posisi sebagai bagian linguistik yang meneliti satuan bahasa serta penggunaannya.

Sekalipun analisis wacana kedudukanya masih baru, bahkan merupakan ilmu yang baru berkembang mencari jati diri, tetapi keberadaanya sudah lama diapresiasi oleh pengguna bahasa mungkin tanpa mereka sadari.

2. Pengertian Wacana Monolog

Menurut Syamsuddin dkk (1997/1998:163) yang dimaksud dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang tidak termasuk dalam lingkungan percakapan, tanya jawab, teks drama atau film, dan betuk-bentuk lain yang sejenis, termasuk juga wawancara. Syamsuddin memberikan contoh jenis-jenis wacana monolog lisan, diantaranya ialah pidato, khotbah, mengajar dan lain-lain, sedangkan jenis-jenis wacana monolog tulisan misalnya, pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita dan lain-lain dengan persyaratan dibentuk oleh sebuah kalimat/tuturan yang beruntun dan berkaitan berdasarkan atas kesatuan isi, tujuan dan situasinya.

Jadi, dapat disimpulkan di sini bahwa yang disebut dengan wacana monolog adalah bentuk bahasa/tuturan baik lisan maupun tertulis yang disampaikan searah bukan dialogis, beruntun dan berkaitan berdasarkan kesatuan isi, tujuan dan situasi.

Wacana monolog memiliki perbedaan yang sangat menonjol jika dibandingkan dengan wacana dialog. Perbedaan tersebut diantaranya terletak pada aspek tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara.  Pada wacana monolog tatap muka, penggalan pasangan percakapan, dan kesempatan berbicara tidak diperlukan, karena wacana monolog sifatnya searah bukan dua arah sebagaimana wacana dialog. Kalaupun terjadi, misalnya guru mengajar, hal itu hanya kebetulan saja, dan tidak sedikit pun menunjukkan sifat wacana dialog. Contoh yang konkrit dalam tradisi Jawa misalnya, seorang dalang pada suatu pagelaran wayang (kulit, krucil, thengul).

3.     Analisis Wacana Monolog

Untuk melakukan kegiatan analisis wacana monolog ada  beberapa hal penting yang tidak dapat ditinggalkan. Hal yang dimaksud yakni, yang berhubungan dengan rangkaian dan kaitan tuturan, berhubungan dengan penunjukkan atau perujukan, dan berhubungan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana.

a. Rangkaian dan Kaitan

Rangkaian yang dimaksud dalam analisis wacana monolog di sini adalah segala bentuk hubungan antartuturan baik pada tataran antarkalimat dalam sebuah kalimat, maupun dalam leksikon pada satu kesatuan wacana monolog, sedangkan kaitan yang dimaksud di sini diartikan dengan segala bentuk hubungan yang terjadi antara satu alinea dengan alinea lain dalam satu kesatuan wacana monolog (Syamsuddin, 1997/1998:164).

Dalam wacana monolog, rangkaian yang dijadikan sebagai perangkai antartuturan banyak sekali jenisnya. Jenis-jenis yang dimaksud antara lain sebagai berikut: 1) penyambungan (conjunction); 2) alternatif; 3) perluasan/penjelasan; 4) jawaban; 5) sebab akibat; 6) perbandingan (comparison); 7) pertentangan (contrast); 8) pembatasan/pengertian (definition); 9) evaluasi (evaluation); 10) pembuktian/penguatan (evidence); 11) pemberian contoh (exaplification); 12) generalisasi; 13) penyimpulan (inference); 14) kesejajaran/paralel; 15) pertanyaan; 16) relasi tindakan; 17) pernyataan ulang; 18) hasil/akhirnya (result); 19) rangkuman/ringkasan (summary); 20) elipsis; 21) penggantian (substitution); 22) keterangan (exposition); dan 23) uraian (explanation) (Syamsuddin, 1992:81).

Kendati rangkaian banyak sekali jenisnya, tetapi untuk menerapkan ke dalam suatu tuturan baik antarkalimat maupun ke dalam tuturan antarleksikon diperlukan pengklasifikasian melalui sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap bentuk rangkaian tersebut, dan tidak semua rangkaian itu dapat diterapkan ke dalam suatu analisis wacana monolog, atau dengan kata lain belum tentu seluruhnya di jumpai dalam suatu kesatuan wacana.

b. Rujukan/Penunjukan

Dalam wacana monolog, rujukan atau penunjukan dapat dilakukan antara lain berdasarkan arah, sifat atau jenisnya. Berdasarkan arah, rujukan atau penunjukkan dibagi menjadi: 1) penunjukan ke dalam wacana itu sendiri yang disebut endophoric reference;  dan 2) penunjukkan ke luar dari wacana itu yang disebut dengan exophoric reference. Penunjukkan ke dalam wacana itu sendiri menurut ketetapan masih di bagi lagi yaitu, penunjukkan yang kembali kepada yang sudah disebut sebelumnya (penunjukkan ke atas) atau yang disebut anaphoric reference, dan penunjukkan kepada yang berikutnya (penunjukkan ke bawah) atau disebut dengan cataphoric reference (Syamsuddin,  1997/1998:171). Demikian pula penunjukkan yang dilakukan berdasarkan sifat atau jenisnya dapat dibagi menjadi: 1) penunjukkan proposal. Penunjukkan ini biasanya menggunakan nama orang atau benda; 2) penunjukkan demonstratif. Penunjukkan ini biasanya untuk menentukan tempat atau sesuatu dengan mempergunakan kata penunjuk sesungguhnya; dan 3) penunjukan perbandingan. Penunjukkan ini bersifat tak langsung, dan biasanya menggambarkan kesamaan, kemiripan, perbedaan, pertentangan dan lain-lain sifat dari sesuatu (Syamsuddin, 1997/1998:173).

Rujukan atau penunjukkan pada umumnya ditandai oleh kata-kata penunjuk sebenarnya seperti: ini, itu, di sini, di situ, maupun oleh kata-kata penunjuk yang tidak sebenarnya, seperti: tersebut, terkatakan, tersurat, berikut, dan lain-lain, dan kadang-kadang ditandai pula oleh kata-kata lain selain kata penunjuk  (Syamsuddin, 1992:86). Pendapat lain mengatakan bahwa hubungan antarkalimat dalam suatu wacana bisa ditandai oleh kata-kata penunjuk, kata keterangan/pengulangan kata ganti, ungkapan penghubung antarkalimat, dan persangkaan (Depdikbud, 1985:40-41). Misal:

1) makanan kita harus bermacam-macam, seperti daging, sayuran, buah-buahan, dan susu. Makanan itu membuat kita sehat dan kuat.

2) uap air yang naik ke atas makin lama makin banyak dan membentuk awan. Uap air yang membentuk awan tadi makin tinggi makin dipengaruhi oleh suhu sekelilingnya.

Kata penunjuk itu yang mengacu kepada macam makanan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya dan pengulangan kata ganti kita dan kata makanan dapat memadukan hubungan antarkalimat pada contoh 1). Demikian pula halnya kata keterangan tadi pada contoh 2). kata tadi yang mengacu kepada pernyataan pada kalimat sebelumnya itu dapat memadukan hubungan antar kalimat pada contoh itu. Kemudian, yang menyatakan ungkapan penghubung seperti pada contoh berikut ini.

3) Bu Yanti adalah pedagang kaya. Meskipun demikian, dia hidup sederhana.

4) Warsiman selalu belajar keras. Oleh karena itu, nilai-nilai baik.

Frase meskipun demikian dan oleh karena itu dalam kalimat tersebut adalah ungkapan penghubung antarkalimat yang mengacu kepada kalimat pertama masing-masing contoh kalimat tersebut. Ungkapan itu dapat memadukan hubungan antarkalimat. Ungkapan seperti, akan tetapi, sehubungan dengan itu, dengan kata lain, akhirnya, namun, jadi dan sebagainya merupakan ungkapan penghubung antarkalimat.

Selanjutnya, yang menyatakan hubungan persangkaan. Hubungan persangkaan yaitu penanda hubungan antarkalimat dalam wacana yang tidak menggunakan penanda hubungan tertentu. Hubungan tersebut hanya dapat dilihat berdasarkan penalaran asosiatif. Perhatikan contoh berikut ini.

5) Eksperimen tentang susunan dan persendian tulang ayam dikerjakan dalam kelompok yang terdiri dari dua orang siswa. Perhatikan tulang-tulang ayam  yang ada di mejamu! Keras atau lunakkah tulang ayam? Tulang ayam terdiri dari zat apa? Tulang bagian tubuh apakah yang kamu selidiki? Dapatkah kamu menemukan hubungan antara tulang-tulang yang merupakan sendi dengan yang tidak merupaka sendi? Bincangkan dengan temanmu!

c. Pola Pikiran dan Pengembangan Wacana

Berkaitan dengan pola pikiran dan pengembangan wacana serta pertaliannya dengan usaha mempermudah analisis, perlu kiranya dikemukakan di sini beberapa hal tentang wacana. Bahwa, wujud wacana dapat pula berupa sebuah alinea, bahkan wujud ini dianggap sebagai bentuk wacana yang paling kecil. Sekait dengan itu, dalam pembahasan ini akan ditalikan dengan variasi dan pengembangan alinea.

Menurut Syamsuddin (1992:88), sebuah alinea dibentuk oleh sekelompok kalimat, dan kelompok kalimat tersebut merupakan satu kesatuan maksud. Alinea atau yang disebut pula dengan paragraf selalu ditandai oleh adanya  garis baru berikutnya.  Garis baru dalam sebuah alinea tersebut ditandai oleh garis yang menjorok ke dalam dari garis margin, dan kurang lebih tujuh ketukan atau delapan ketukan.

Demikian pula Syamsuddin menjelaskan (1992:88) bahwa, dalam sebuah alinea terdapat sekurang-kurangnya tiga unsur di dalamnya. Ketiga unsur itu adalah:  1) adanya sebuah kalimat inti (topic sentences) yang merupakan pokok pikiran utama pada alinea itu; 2) adanya seri kalimat lain yang berkelompok dengan kalimat inti sebagai keterangan/penjelasan/uraian dari kalimat inti tersebut; dan 3) adanya keterangan-keterangan dari bagian-bagian utama pada kalimat-kalimat tersebut, terutama kalau alinea itu hanya terdiri atas satu kalimat panjang saja. Dalam hal ini, topik kalimat adalah inti sebuah kalimat.

Selanjutnya, dalam suatu alinea terdapat sifat-sifat tertentu yang memungkinkan sebuah alinea mudah dikenali. Sifat-sifat tersebut ialah:

1) sebagai uraian/penjelasan/keterangan terhadap salah satu aspek terkecil dari masalah yang dibahas dalam keterangan ini;

2) sebagai pengikat pokok-pokok pikiran terkecil dari aspek suatu karangan, yang disatukan dalam kelompok kalimat, sehingga unsur-unsur yang terkandung dalam aspek terkecil itu tidak berserakan;

3) sebuah alinea pada dasarnya juga merupakan topik terkecil dari masalah itu sekalipun pada alinea tidak pernah dituliskan judul/topik atau titel itu. Jadi, ada judul/topik tersembunyi pada sebuah alinea; dan

4) kalimat-kalimat yang terdapat dalam satu alinea diikat atau diarahkan oleh topik kecil alinea itu dan hubungannya rapat sekali dengan topik alinea (Syamsuddin dkk, 1997/1998:175).

Berdasarkan letak topik kalimat, sebuah wacana dapat digolongkan menjadi empat jenis. Keempat jenis tersebut ialah: 1)  topik kalimat terletak pada awal/permulaan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada awal/permulaan alinea biasanya  bersifat menguraikan sesuatu atau menjelaskan pendapat. Sebenarnya pengertian tentang permulaan alinea pada penjelasan tersebut bukan mengandung maksud hanya pada kalimat pertama saja topik kalimat itu dimunculkan, melainkan kalimat-kalimat pada bagian permualaan suatu alinea. Istilah lain menurut penulis adalah alinea atau paragraf induktif; 2) topik kalimat terletak pada pertengahan alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada pertengahan alinea biasanya dijumpai pada alinea yang mengandung pengantar dan penutup, sedangkan bagian tengah merupakan pokok persoalan bagi alinea itu; 3) topik kalimat terletak pada akhir alinea. Wacana yang topik kalimatnya terletak pada akhir alinea biasanya merupakan suatu keputusan atau pembuktian terhadap masalah kecil pada alinea itu; dan 4) wacana yang alineanya terdiri atas satu kalimat. Wacana yang alineanya terdiri atas sebuah kalimat saja berarti seluruh pokok pikiran yang diperlukan pada alinea itu sudah dapat dirumuskan oleh kalimat tersebut secara jelas dan menyeluruh.

Dalam pendapat lain pembagian alinea atau paragraf ditentukan oleh letak kalimat tumpuan (kalimat topik) dalam paragraf bersangkutan, dan penggolongan atas alinea atau paragraf tersebut adalah sebagai berikut: 1) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal paragraf; 2) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada akhir paragraf; 3) paragraf yang kalimat tumpuannya terletak pada awal dan akhir paragraf; dan 4) paragraf yang kalimat tumpuannya tersirat dalam keseluruhan paragraf (Depdikbud, 1985:42). Dua pendapat itu pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, kendati diuraikan dengan jalan pikiran yang berbeda.

4.  Pengembangan Alinea

Dalam pengembangan alinea hal terpenting yang perlu mendapat perhatian adalah unsur-unsur yang menjadi pengembang dari suatu alinea. Beberapa hal penting yang menjadi unsur pengembang dari suatu alinea antara lain:

1) fakta atau hal-hal yang sensitif, maksudnya, dalam upaya mengembangkan sebuah alinea setidaknya kita harus mencari objek untuk dijadikan sebagai bahan pengembangan. Dalam hal ini bisa sesuatu yang disetujui atau hal yang tidak disetujui oleh khalayak, dengan penyampaian ergumen-argumen kebaikan atau ketidakbaikan sesuatu berdasarkan fakta. Misal:  ”Tidur di bawah pohon malam hari tidak baik bagi kesehatan” , topik kalimat ini diyakini semua orang yang memahami kesehatan akan berpendapat yang sama, maka kalimat-kalimat lain yang diperlukan untuk memperluas dan melengkapi kalimat itu sebagai alinea adalah fakta-fakta tentang kejelekkan tidur di bawah pohon malam hari yang dikemukakan dalam bentuk kalimat-kalimat tambahan. Selain itu, dapat pula dipergunakan argumen lain yang spesifik yang dapat memperkuat topik kalimat tersebut.

2) contoh-contoh sebagai unsur, maksudnya, dalam mengembangkan sebuah alinea dapat juga mengambil contoh sesuatu hal untuk dikembangkan. Misal:  ”rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya”, kita dituntut untuk melengkapi dengan kalimat-kalimat lain yang merupakan contoh-contoh tentang kebenaran pernyataan itu. Untuk mengembangkan menjadi suatu alinea pada dasarnya bergantung dari tujuan kita terhadap main topic tersebut.

3) Insiden/kejadian sebagai unsur, maksudnya suatu insiden atau kejadian baik yang kita alami sendiri maupun yang dialami orang lain dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan sebuah alinea. Demikian pula dengan insiden/kejadian yang tidak terduga/ tidak direncanakan, baik yang kita alami atau dialami orang lain.

4) sekelumit cerita sebagai unsur, maksudnya sekelumit cerita dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan alinea. Biasanya pengarang mempunyai maksud untuk menarik perhatian pembaca atau untuk menyegarkan perasaan pembaca dari suatu situasi yang sebelum atau sesudah alinea itu. Oleh karena itu, alinea itu sengaja diciptakan oleh pengarang sekedar untuk selingan agar pembaca memiliki semangat dan hasrat kembali. Karangan yang beralinea model ini penggunaannya boleh pada karangan ilmiah, populer lebih-lebih pada sastra.

5) alasan/sebab sebagai unsur, maksudnya bahwa, alasan/sebab dapat pula dijadikan sebagai alat pengembang sebuah alinea. Bahkan, kenyataan di masyarakat tidak semua orang dapat menerima pendapat orang lain apabila tidak disertai dengan alasan-alasan yang rasional dan meyakinkan. dalam karangan ilmiah pengembangan alinea model ini sangat dibutuhkan.

5. Teknik Pengembangan Alinea

Mungkin semua orang akan berpendapat bahwa, kendati alinea itu hanya terdiri dari beberapa kalimat atau sebuah kalimat saja, tetapi cara penyusunan dan pengembangannya tidak semudah yang kita bayangkan, lebih-lebih jika kita tidak mengetahui langkah-langkah praktis atau teknis penyusunannya. Untuk mengatasi kesulitan tersebut Syamsuddin (1997/1998) menjelaskan langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan. langkah-langkah itu ialah:

a. Tentukan dahulu topik bagi alinea itu;

b. Catat semua hal yang menurut anda ada hubungannya dengan topik alinea itu. Tidak usah terlalu panjang, cukup pokok-pokok saja. Kemudian, anda seleksi mana yang tepat dan mana yang tidak;

c. Susun secara sistematis urutan unsur-unsur bagi alinea itu mulai dari topik disusul dengan penjelasan-penjelasannya;

d. Tentukan gaya penulisannya, apakah dimulai dengan kalimat topik atau dengan varisasi yang lain;

e. Akhirnya jadikan unsur yang berurutan itu paling sedikit satu kalimat untuk satu unsur.

Contoh kerangka alinea:

Topik    : Rapat akhir tahun RT 27 (dalam rangkaian wacana berjudul:  Evaluasi Kinerja Rukun Tetangga RT: 27 RW: 08 Perum Jalagriya Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo)

Detail                    : 1. Ketua RT—program yang telah dicapai selama ini

2. Sekretaris RT—program yang masih tersisa

3. Warga—usulan tentang perlunya dibentuk koordinator gang

4. Warga—usulan tentang penetapan iuran dana pembangunan saluran air got

5. Bendahara—pengumpulan dana iuran pembangunan saluran air got

Contoh bentuk final kerangka tersebut

Rapat akhir tahun RT 27  malam ini adalah mendengarkan paparan ketua RT tentang program-program yang telah dan yang belum dicapai dalam tahun pertama penyelenggaraan pemerintahan rukun tetangga 27. Rapat seperti ini selalu diselenggarakan untuk evaluasi kinerja ke depan agar lebih baik dalam pencapaian program berikutnya. Ketua RT memaparkan beberapa program yang telah dicapai dalam rencana jangka pendek tersebut. Program-program yang telah dicapai itu misalnya, pembangunan balai RT, pembangunan gapura masuk dan pemasangan listrik di sepanjang jalan masuk wilayah RT 27. Namun demikian, masih ada sisa rencana jangka pendek yang belum dicapai. Sebagaimana yang dipaparkan oleh sekretaris RT bahwa masih ada satu program yang juga dianggap penting untuk direalisasikan. Program itu adalah pembangunan saluran air got yang tidak bisa mengalir jika musim hujan turun. Karena itu, perlu ada kesepakan bersama tentang rencana tersebut. Untuk mengatasi persoalan itu apakah penanganannya dibebankan di pundak RT secara keseluruhan atau di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Warga mengusulkan agar penanganannya dibebankan di pundak masing-masing penanggung jawab gang. Karena itu,  maka perlu dibentuk seorang koordinator gang yang mengetuai/menggerakan masyarakat di tiap-tiap gang tersebut. Warga yang lain menyerukan ditetapkannya jumlah iuran dana yang akan digunakan untuk pembangunan saluran air got tersebut, jika perlu malam ini pula ditetapkan dalam forum ini. Bendahara menyarankan agar dibentuk pula bendahara gang sebagai tempat pengumpulan dana tersebut, dan tidak perlu ditampung dalam bendahara RT, agar tidak menyulitkan penggunaan uang tersebut sewaktu-waktu dibutuhkan. Akhirnya rapat malam itu berjalan dengan baik dan program-program yang mesih belum direalisasikan ditetapkan sebagai masalah penting yang perlu penanganan secepatnya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Djajasudarmo, Fatimah T. 1994. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: PT Eresco.

Depdikbud. 1985. Panduan Penggunaan Kata, Kalimat, dan Wacana. Jakarta: Depdikbud.

Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan: Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Depdikbud.

Lubis, Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatis. Bandung: Penerbit Angkasa.

Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.

Syamsuddin A.R, dkk. 1997/1998. Studi Wacana Bahasa Indonesia. Bandung: Depdikbud.

Syamsuddin A.R. 19992. Studi Wacana: Teori Analisis Pengajaran. Bandung: FPBS IKIP Bandung.

Wahab, Abd. 1991. Isu Linguistik: Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.


1 Lektor Kepala pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags: